Mengembalikan Wajah Kampus

“Tuhan tak mengubah nasib satu kaum hingga kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri”

Belakangan ini, Kampus Psikologi UNS seperti bukan kampus. Mesen diselimuti crazy little thing I called abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud di Jawa Timur.

“Kampus tampak lebih seperti gurun Sahara”, begitu kata teman-teman.

“Kampus nggak enak banget sih kalau gini. Jadi males ngampus”, kata teman yang lain.

Dan hari sabtu kemarin tepatnya 22 Februari, kawan-kawan dan segenap unsur Psikologi UNS memilih untuk mengubah nasib dan mengembalikan wajah kampus seperti semula. Karena  bagi kami, perubahan itu tak hanya dituntut. Tapi ia diciptakan. Dengannya kami turun tangan dengan membersihkan abu yang menutup dari pagi hingga matahari tepat di atas ubun-ubun yaitu jam 12 siang.

Tak ingin kalah dari para mahasiswa. Beberapa Dosen  pun ikutambil bagian di dalam kegiatan bersih-bersih kali ini. Pak Hakim, Pak Adit bersama anaknya pun ikut berbenah kampus. Mereka pun tak malu turun bersama mahasiswa mengorek, mengangkat dan membuang tumpukan-tumpukan abu vulkanik.

Memang seperti inilah yang harusnya terjadi. Semua pihak turun untuk mengubah. Berani menuntut berani bertindak.

Aside

Jadikanlah

Ada yang bilang bahwa jangan menunggu pintu terbuka. Tapi ketuklah pintunya. Dengan kata lain, jangan hanya menunggu kesempatan. Tapi buatlah kesempatan tersebut.
Untuk inspirasi pun. Jangan menunggu inspirasi, karena sekali-kali ia tak akan datang. Tapi ciptakanlah.
Dalam bahasa Ilahi, maka jadikanlah.
Untuk perubahan. Jika Kau menyebut dirimu pemuda, jangan sekali-kali menuntut perubahan. Tapi ciptakanlah.
Untuk menunggu peluang, menunggu mungkin sebuah kata kerja. Tapi ia termasuk kata kerja yang “pasif”. Karena ia cenderung diam.
“Dalam sebuah perjuangan dan pergerakan, diam adalah sebuah pengkhianatan”

Aside

Kecil

“Ah ngapain sih ngelakuin itu? Itu kan remeh, nggak ngaruh apa-apa”
“Udah, lakuin aja. Kan itu kecil. Pasti nggak ada yang sadar kok”
Sering. Sangat sering terjadi, kita meremehkan hal-hal kecil di sekeliling kita.
Kita sangat sering hanya menghiraukan “batu besar” yang kadang menghalang jalan. Tetapi, kita menjadi luput akan “batu kecil” yang bisa membuat kita tersandung dan terjatuh.
Menyoal hal kecil. Korupsi pun berawal dari yang kecil. Titip absen, misalnya.
Apa korelasinya? Titip absen mungkin hal yang kecil. Sangat kecil bahkan (bagi beberapa orang). Tetapi jika untuk hal kecil saja kita tak bertindak baik, maka apa jaminan kita bisa bertindak baik pada hal-hal yang lebih besar?

Aside

Mencinta

Mencinta bukan lah menerima. Mencinta adalah tentang memberi yang terbaik.
Merawat pun membutuhkan cinta. Pernah kah Kau melihat seorang ibu yang menyedot ingus bayinya yang flu langsung menggunakan mulut?
Ya, benar. Mungkin itu menjijikkan bagi beberapa orang, termasuk mungkin Saya. Tapi bagi seorang ibu? Tidak. Itu lah bukti cintanya. Memberikan yang terbaik untuk anaknya agar dapat sembuh.
Dan juga mungkin Kau pernah melihat atau mungkin Kau sendiri, seorang lelaki yang rela menerobos hujan demi pasangannya?
Mungkin hal itu seperti tukagn ojek bagi Saya. Tapi bagi lelaki tersebut? Tentu tidak. Itu adalah bentuk bukti cinta pada gadisnya.
Tapi, menurut Saya. Jika dia benar-benar cinta, harusnya bukan dengan dipacari, tapi dengan dinikahi. Asik.
Ada seorang teman yang berkata, “Aku tak ingin menurunkan derajat orang yang kucintai di hadapan Allah SWT dengan memacarinya”. Benar-benar luar biasa.
Ada lagi kata seorang kakak “Semakin kita paham, harusnya makin kita cinta. Pahami dulu lalu Kau akan cintai”. Saya pun jadi tertegun dengan kalimat tersebut. Dan ngomong-ngomong kenapa pembahasannya bisa sampai di sini ya? Oke lah. Sampai jumpa kalau begitu.