Menjelajahi Dieng

Dengan arahan pak Kelik, cucu Bu Djono penjaga penginapan akhirnya kami mengelilingi Dieng.

Tujuan pertama adalah komplek Candi Arjuna. Berjalan kaki sekitar 15 menit dari penginapan.

IMG_4327

Dilanjut ke candi Gatotkaca dan museum Dieng sekitar 1 kilometer. 

IMG_4347 IMG_4343

Menuju Candi Bima sekitar 1,5 kilometer. Dan melanjutkan jalan masuk menuju kawah Sikidang sejauh 2,7 kilometer.

IMG_4354

Saat memasuki kawasan kawah Sikidang, bau menyengat belerang langsung tercium. Buat yang belum tau gimana baunya, silakan bayangkan bau kentut. Begitu kira-kira. Banyak yang menjual masker di sekitar parkiran. Tapi karena kami lelaki sejati, maka kami tak membeli masker. Lelaki sejati berani menghirup udara langsung tanpa penghalang masker. Tsah….

IMG_4364 IMG_4369   IMG_4402

Kenapa namanya kawah Sikidang? Kidang berarti Kijang, karena sifat semburan belerang di kawah ini berloncat-loncatan atau sering berpindah tempat seperti kijang.

Kemudian kami menuju Dieng Plateau Theater. Katanya di sana kami bisa menikmati film singkat mengenai sejarah dataran tinggi Dieng. Oke, lets go! Karena jalannya jauh mamutar, kami memilih menerabas sebuah lembah. Lebih mirip bekas rawa yang sudah mengering. Ditumbuhi ilalang setinggi lutut. Sepatu basah sedikit tak mengapa. Yang penting happy. Kami membuat satu cerita yang berbeda dengan pengunjung lainnya. Menerabas lembah!IMG_4379

Dari plang Dieng Plateau Theater ini kita masih harus jalan mendaki beberapa ratus meter. Bagi pengendara motor atau mobil mungkin adalah hal yang remeh, tapi bagi kami pejalan kaki? Hem….

Dengan merogoh kocek Rp 4.000 kamu sudah bisa mengetahui dan menikmati informasi sejarah dataran tinggi Dieng melalui video berdurasi 23 menit. Mini theater ini sangat nyaman. Kursi empuk, pendingin udara menambah syahdunya suasana, hingga teman Saya malah ketiduran.

 

IMG_4381

Dari Dieng Plateau Theater kita mendaki ke atas tebing ratapan angin untuk melihat Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang tersohor keindahanannya. Cukup bayar Rp 5.000 untuk retribusi.

IMG_4395

Tapi sayang, dewi fortuna belum berpihak pada kami. Sore itu kabut menghalangi pemandangan Telaga Warna. Hijau toscanya hanya mengintip di sela-sela kabut pegunungan. Karena kecewa, kami diizinkan oleh penjaganya untuk datang lagi besok tanpa membayar retribusi masuk. Oke sip! Terima kasih pak!

Kami kembali menuruni jalan setapak menuju Dieng Plateau Theater. Di belakang gedung teater ada jalan setapak menuju telaga Warna. Yap, kita ingin melihat telaga Warna secara dekat.

IMG_4402

IMG_4415IMG_4417

Ya tak jauh beda. Hijau toscanya kurang memancar. Semburan belerang dari dalam telaga dan ditambah penyinaran matahari yang pas akan membuat telaga ini menjadi hijau tosca.

Kaki kembali melangkah menuju telaga Pengilon. Telaga ini adalah telaga yang bersebelahan dengan telaga Warna. Bisa dibilang kedua telaga ini bersambungan, tapi warna kedua telaga jauh berbeda. Kenapa? Hanya Tuhan dan saintis yang tahu.

IMG_4408

Telaga Pengilon lebih naas, sama sekali tak bisa dilihat karena tertutup kabut.

Cerita belum berakhir di sini. Nantikan kelanjutannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s