Aside

Nikah Beda Suku?

Sebagai anak perantauan hal ini adalah salah satu yang menjadi kerisauan di benak saya, selain kapan lulus. Sebelum beranjak lebih jauh ke pertanyaan “Kapan nikah?”, ada pertanyaan terselip “Dengan siapa?”. Ah panjang cerita.

Jadi begini.. Pernikahan adalah hubungan antara pria dan wanita dalam suatu ikatan yang sah baik secara agama maupun hukum. Teorinya begitu, hubungan dua orang. Tapi di lapangan, kita menjumpai bahwa perkawinan tak hanya menyatukan dua insan namun juga dua keluarga atau bahkan dua budaya. Wait. Budaya? Suku? Oh tidak. Bagaimana kalau saya atau kamu yang membaca tulisan ini berjodoh dengan orang yang beda suku?

Karena risau, di suatu siang yang agak gerimis saya mendiskusikan hal ini dengan seorang dosen ahli indigenous psychology atau psikologi lintas budaya.

“Gimana nih, pak? Di mana kaki berpijak, di situ jodoh dijunjung” buka saya di awal diskusi.
Ya karena saya kuliah di Jawa dan kemungkinan besar mendapat jodoh orang Jawa atau mungkin sesama perantau.
Dari diskusi tersebut saya mendapat pencerahan. Awalnya saya takut perbedaan budaya di kedua individu akan sangat membuat perbedaan dam bahkan perpecahan. Tapi ternyata, secara teori makin banyak jumlah individu dalam suatu interaksi, maka makin besar pula efek budaya akan berperan.

“Artinya apa tuh, pak?”.

Kemungkinan ketika kita menikah beda suku, di sana hanya akan melibatkan dua individu inti yaitu suami dan istri. Kecenderungannya adalah mereka lebih menggunakan kepribadian masing-masing, bukan kepada budaya mereka. Kebudayaan hanya akan kuat ketika individu yang terlibat interaksi jumlahnya banyak. Tugas pasangan adalah memanage persamaan dan perbedaan mereka, tak perlu mengkhawatirkan perbedaan budaya. Dengan catatan satu pasangan ini memang tinggal di rumah sendiri, bukan di rumah orang tua (yang menambah jumlah interaksi individu).

Dan lagi nih guys. Ternyata menurut penelitian, anak yang dilahirkan dari dua orang tua yang berbeda kultur akan cenderung memiliki kecerdasan yang tinggi! Hal ini disebabkan oleh susunan gen dan pola pengasuhan yang unik dari dua kultur.
So, kenapa takut nikah beda suku? Resikonya tidak lebih besar atau kecil dari nikah satu suku. Lagian jika beda suku, setidaknya kita disatukan oleh aqidah yang sama bukan? Heuheuheu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s