Aside

Aceh yang Memuliakan Masjid

baiturrahman

Baru dua hari berada di Banda Aceh, makin bergetar hati saya.

Sejenak setelah salam maghrib, sesaat sebelum jamaah dipersilakan menunaikan sholat ba’diyah pengelola meunasah mengumumkan akan ada kajian ba’da maghrib. Kajian ba’da sholat memang suatu kebiasaan di masjid-masjid di Aceh. Paling minimal adalah pembacaan riwayat perjuangan nabiullah Muhammad SAW beserta para sahabatnya di masa-masa awal penegakan Islam.

Oiya, meunasah ini adalah sebutan orang Aceh untuk musholla kampung. Oke, mereka menyebutnya musholla kampung yang masing-masing desa memilikinya, namun bagi saya ini bukan sekadar musholla. Meunasah-meunasah di Aceh lebih pantas disebut masjid mengingat ukurannya yang besar. Setara dengan masjid-masjid sekitaran kampus Univ. Sebelas Maret. Dan satu kecamatan memiliki satu masjid besar.

Kemudian soal bangunan dan keindahan tak usah ditanyakan lagi. Namun satu perbedaan mencolok dibanding masjid-masjid yang pernah saya temui. Masjid di Aceh benar-benar hidup. Alhamdulillah di maghrib kali ini saya bisa merasakan langsung geliatnya. Jumlah jamaah di meunasah begitu banyak. Saat selesai salam tak ada satupun yang beranjak dari tempat duduknya. Mereka tetap duduk berdzikir menunggu pembacaan riwayat hadits oleh salah seorang jamaah di depan. Mereka benar-benar menjalankan kebiasaan para sahabat dalam majelis. Mereka merapatkan duduknya, hingga mungkin jika ada dedaunan yang jatuh, dedaunan tersebut tak akan menyentuh tanah melainkan ke bahu mereka.

Kajian berjalan setengah jam, saya menduga sudah mulai ada jemaah yang beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pulang. Tapi ternyata saya salah besar! Jumlah jamaah yang ada malah bertambah. Mereka yang tadinya tidak ikut jamaah maghrib malah ikut merapat mendengarkan kajian hingga adzan Isya dikumandangkan.

Subhanallah. Muslim Aceh benar-benar memuliakan masjid. Mereka bisa membuat masjid hidup. Suasana masjid seperti malam ini hanya bisa saya dapatkan di daerah Solo ketika bulan Ramadhan dan itu pun di awal bulan.

Terima kasih ya Allah telah menunjukkan bahwa di dunia modern seperti ini masih banyak orang-orang yang peduli dengan rumahmu. Sebagai do’a penutup, semoga kita semua termasuk individu yang dirindu surga. Melalui jalan menjadi pemuda yang memakmurkan masjid. Aamin yaa robbal aalamiin.

Advertisements

One thought on “Aceh yang Memuliakan Masjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s