Honda Bikers Day 2015

Pilek bukan rintangan untuk menikmati indahnya Indonesia. Dalam rangka Honda Bikers Day 2015, tiga armada berangkat ke kota 1001 goa, Pacitan. Tepatnya di pantai Teleng Ria.

Hujan di petang sempat menimbulkan rasa pesimis di dada. “Lanjut gas malam ini atau besok ya”. Continue reading

Alhamdulillah Pilek

Semingguan ini hidung saya dipenuhi semacam cairan yang membuat pernapasan jadi agak kurang enak. Tak lupa suara yang agak bindeng plus pendengaran yang agak budek. Bahasa mudahnya, ya pilek.

Saya jadi teringat kata seorang berilmu bahwa “Sakit adalah penggugur dosa”.

Beberapa waktu kemarin mungkin kesibukan membuat saya jadi luput tak mengangkat telepon dari orang tua nun jauh di Sulawesi. Mungkin bisa menjadi semacam dosa bagi malaikat pencatat amalan di sisi kiri saya.

Alhamdulillah. Di minggu ini Allah SWT memberi penggugur dosa pada saya. Yaa meskipun saya juga kurang tahu dosa mana yang sedang digugurkan. Dan semoga karena hal ini saya tuliskan, pengguguran dosa ini tidak dibatalkan. Hehehe

Mari bersyukur. Dan ijinkan saya meneguk obat.

Tak Rasional Sejak Dini

Dewasa ini sering sekali kita menjumpai hal-hal tidak rasional di sekitar kita, dan Indonesia pada umumnya. Ambil contoh kita berantem di grup FB hanya karena perbedaan pendapat, kita bertengkar hanya karena hal sepele lainnya.

Pernah kah kita berpikir apa penyebab dari itu semua? Saya lagi makan ayam geprek di ruang tamu kost ketika mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut.
Pernah kah terlintas di pikiran bahwa kita menjadi tidak rasional seperti sekarang ini karena kita sudah di-set secara tidak sadar oleh orang tua kita, yang ternyata juga tak sadar bahwa mereka di-set oleh orang tuanya? Ribet ya.

Jadi begini, cukup dijawab dalam hati. Di waktu kecil pernahkah anda terjatuh saat belajar berjalan, kemudian anda menangis? Pasti pernah. Dan apa yang dilakukan orang tua anda? Memukul tembok dan memarahi tembok agar kita diam? Oke, saya terima anggukan kepala itu.

“Uuuuh .. Tembok nya nakal. Cup cup cup jangan nangis lagi ya”. Kira-kira begitu.

Sering kali jurus tersebut digunakan kepada anak kecil dan ternyata ini ampuh. Tapi apa efek jangka panjangnya? Terekam di alam bawah sadar, bahwa lingkungannya lah yang salah. Bukan dia. Ketika dia berjalan dan terjatuh karena tidak hati-hati, lingkungan lah yang salah. Dan akhirnya terbawa hingga dewasa.

So mulai sekarang, sebagai calon orang tua atau pun yang punya saudara dan masih kecil, mulai dari sekarang berhenti memukul dan memarahi tembok ya.

Ini sekadar corat-coret sotoy saya. Sekarang biarkan saya melanjutkan suapan nasi plus ayam geprek yang tadi sempat terhenti.

Ahmad Shofwan Muis
Juga pernah terjatuh tapi yang dimarahin adalah tembok
Surakarta, 12 November 2015