Sindoro Summit

image

Sesuatu yang pertama selalu menjadi hal yang spesial. Akhirnya bisa mendaki puncak pertama saya di tanah Jawa, tentu saja di luar puncak Bogor ya. Yap, dan momen pertama saya tersebut jatuh kepada Sindoro.

Perjalanan Mendaki Gunung Sindoro dimulai dari Solo dan rehat di Temanggung sebelum menuju basecamp Sindoro di Kledung. Jam sembilan pagi, kaki mulai melangkah. Singkat cerita pukul 12 siang, kaki sudah menginjak pos 3. Oiya, jadi di Sindoro ada empat pos, dan pos 3 bisa dikatakan adalah setengah jalan menuju puncak. Diputuskan kita tidak membuat camp di pos ini, karena jalan masih jauh. Pukul empat, lanjut jalan menuju pos 4, tempat kita berencana mendirikan camp. Hingga kemudian “manusia hanya bisa berencana namun Tuhan lah yang menentukan”.

Tepat sebelum adzan maghrib berkumandang, tetesan air jatuh ke bumi secara keroyokan. Iya, mereka emang gak gentle. Kalau berani, sendirian sini. Oke lanjut. Rencana berubah, dome didirikan di tengah hujan lebat. Ya sekadar berdiri sebagai tempat berteduh. Dome kapasitas lima orang ditempati sekitar selusin manusia yang menggigil dengan baju basah kuyup. Oke, ini bukan rintangan ujar saya dalam hati. Hingga jam delapan malam, hujan belum kunjung reda. Dingin dan kram mulai melancarkan serangannya, tentu ini berefek ke sisi psikologis. Saling berdempetan, saling memotivasi, saling menguatkan menjadi penghangat tenda kami malam itu. Sekitar jam 10 malam, sudah tak terdengar suara percikan air di atap dome. Kami keluar dengan badan menggigil dan…. Voila! Langit menjadi cerah secerah-cerahnya. Pemandangan lampu kota Temanggung dan Wonosobo bertaburan di bawah sana. Tak lupa juga dengan Sumbing yang berdiri kokoh di antara kedua kota tadi. Sungguh hadiah yang luar biasa. Alhamdulillah.

image

Perjalanan menuju puncak dilanjut keesokan paginya. Jaraknya mungkin tak sejauh pos sebelumnya, tapi kemiringan medan membuatnya terasa menjadi lebih jauh. Jalur pendakian dengan tanjakan sekitar 45 hingga 65 derajat tersaji di hadapan. Alhasil dengan jalan santai dan banyak istirahat, baru tiga jam kemudian saya sampai puncak.

Pun keberadaan saya di puncak tak begitu lama, hanya sekitar lima menit. Ini karena puncak Sindoro adalah kawah yang mengeluarkan belerang dan saat itu belerangnya sedang keluar. Tapi seperti kebanyakan orang-orang, meskipun singkat momen tersebut tentu harus diabadikan. Jegrek-jegrek dan langsung turun.

image

Sekitar jam enam sore, kami sudah tiba di basecamp awal kami. Yap, hanya menghabiskan waktu sekitar tiga setengah jam. Turun memang tidak memakan waktu seperti saat naik. Dan secara psikologispun terasa lebih ringan karena tujuan sudah tercapai.

Mungkin cerita ini tidak begitu keren bagi kalian. Saya sengaja membuat seperti ini, agar kalian merasakan sendiri rintangam dan tantangan dari mendaki. (Oke ini ngeles)

Sindoro summit: challenge passed. And may the 2016 be with us!

Advertisements

3 thoughts on “Sindoro Summit

  1. Hula! Ketemu hantu EYD lagi nih! Hahahaha.

    Menurut KBBI daring, seharunys kram, bukan keram.
    Terus kamu tadi sempat pakai kata ‘kami’ dan ‘kita’. Kuharap kamu tahu bedanya dan pas nulis itu lagi hilap aja.

    Lalu soal perbedaan kata jam dan pukul. Kamu gak seragam tadi makenya. Bagaimana seharusnya?
    Untuk penunjukkan waktu, kita kudunya pakai ‘pukul’. Pukul 9.00 <– dengan begitu, kamu sudah menunjukkan waktu pagi. Kalau Pukul 21.00 <– kamu menunjukkan waktu malam hari.

    Kata jam digunakan untuk selain penujukkan waktu.

    Lalu, hidungnya kenapa? Hahaha. Aku yakin aku gak berlebihan pernah bilang kalau kamu punya mata yang bagus dalam fotografi. Titik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s