User Experience Mie Tarik

Tarik ulur. Sebuah frasa yang mungkin bagi sebagian orang tak menyenangkan, terlebih jika terjadi dalam sebuah hubungan percintaan. Hmmmm… Siapa yang mau ditarik ulur hayooo???

Bicara soal tarik ulur, ada tarik ulur yang menarik nih.

Tak kalah menarik dengan tarik ulur saat main layangan. Yap! Tarik ulur saat pembuatan mie tarik! Sekilas setelah dihidangkan, mie tarik tak begitu berbeda dengan mie-mie yang lainnya. Proses pembuatan lah yang membuatnya berbeda. Terlebih di dalam proses tersebut kebanyakan mie tarik menawarkan hal yang baru kepada penikmat mie, yaitu pengalaman melihat proses pembuatan mie. Tentu nilai plus jika dibandingkan mie instant, mie kemasan atau mie-mie lainnya. User experience, satu aspek pembeda dalam dunia usaha, yang sederhana namun secara psikologis akan sangat kuat pengaruhnya bagi calon pembeli. Ada nilai tambah dan perasaan berbeda yang dirasakan oleh pembeli dengan adanya user experience ini. Dan jika kita lihat dunia industri kreatif, dewasa ini banyak yang menerapkan penyajian user experience untuk menarik pelanggan. Nah namun setelah itu, tentu sebuah produk ataupun jasa tak sekadar menjual user experience, untuk mempertahankan pelanggannya dia harus tetap memiliki kualitas.

Pernah memakan ice cream pot? Minum susu di kedai susu menggunakan botol dot bayi? Dua hal contoh lainnya. Namun jika tak ada hal positif lain yang bisa ditawarkan oleh produk tersebut, maka seiring waktu berjalan, seiring makin bertambahnya orang yang pernah mencoba dan sekadar “Oh gitu doang”, ia akan hilang tergerus.

Nah beda halnya dengan Mie Tarik Mas Doel di kawasan Pasar Kliwon yang baru saja saya kunjungi bersama para fans. (Eh becanda, bareng temen-temen BPH BEM UNS 2015. Haha). User experience dapat, enak dan kenyang juga dapat! Tak percaya? Silakan langsung bertandang ke kedai mie-nya. Rasa kari dan kambing plus pilihan tingkat kepedasan berbeda siap menggoyang lidahmu.

image

image

Ahmad Shofwan Muis
Dengan goyang lidah penuh rasa cinta

Advertisements

3 thoughts on “User Experience Mie Tarik

  1. Mau komentar boleh enggak? Boleh. Oke. Makasih.

    Jadi gini. Yha EYD aja sih.
    Mie atau mi?
    Lah disambung atau dipisah?

    Udah gitu aja. Semangat skripsinya. Eh salah. Nulis blog-nya :D

    • Nah mau sekalian belajar nih. Itu semua harusnya gimana? Lagi banyak typo karena aku ngeblog via hape. Aplikasi wordpress android. Dan ya emang ini, 30 Days Type and Post. Sebenernya mau pake tag itu, tapi aku ingin meng-Indonesia. Tapi berhubung gak ngerti padanan kata “Posting” akhirnya ya tetep pakai Posting.

      • Berdasarkan KBBI daring (dalam jaringan), mi bukan mie, Shof. Partikel lah disambung sama halnya dengan kah, tah, dan nya. Apakah partikel pun disambung juga? Pada beberapa padanan kata, iya. Padanan kata yang menggunakan partikel pun – adapun, andaipun, akanpun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, nianpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, namunpun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun. Sisanya dipisah ya, seperti: apa pun.

        Posting dalam bahasa Indonesia itu lebih ke mengirimkan dan sejenisnya, Shof. Jadi menurutku kalau mau plek ambil dari istilahnya posting, kurang enak. Mungkin kalau mau diganti dengan: menulis, Shof. Mungkin bisa dicari diksi yang yunik. MIsal: 30 Hari Ketik Lalu Klik. Klik-nya maksudnya klik ‘post’. Wkwkwk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s