Diet Kantong Plastik

“Berdasarkan data statistik persampahan domestik Indonesia, jumlah sampah plastik tersebut merupakan 14 persen dari total produksi sampah di Indonesia,” kata Ketua Umum “Indonesia Solid Waste Association” (InSWA), Sri Bebassari, Antara News.

Perut lagi lapar, kita ke warung bungkus makan. Dibungkus pakai apa? Kantong plastik. Ada tugas, harus diprint. Dibungkus pakai apa? Kantong plastik. Beli kue, ke pasar beli sayur, mau ke gunung biar pakaian enggak basah? Semua di-handle oleh Kantong (almighty) Plastik. Tak terasa di kehidupan ini kita begitu mudah menggunakan kantong plastik. Yap, tentu karena benda ini begitu praktis, memudahkan kehidupan dan tentu saja seringkali kita dapatkan dengan gratis. Namun ternyata penggunaannya sangat singkat dan kemana kantong plastik setelah tak digunakan? Dibuang!

Beruntung lah nasib kantong plastik yang berada di tangan orang-orang baik. Tentu ia akan berakhir di Tempat Pembuangan Akhir sampah dan akan diolah di sana. Bagimana dengan kantong plastik lainnya? Mungkin saja mereka berakhir dikubur di tanah, dibuang ke aliran sungai atau bahkan dibakar. Plastik yang dikubur tak akan bisa “dicerna” oleh tanah. Kantong lastik yang dibuang ke aliran air akan berakhir di laut dan bisa termakan oleh hewan yang berujung pada kematian hewan-hewan tersebut. Kantong plastik yang dibakar? Partikel berbahayanya akan memnuhi udara kita, secara perlahan tak kasat mata namun mematikan. Oke, lebay kali ya. Kembali ke topik. Intinya kita harus sepakat bahwa kantong plastik adalah musuh kita. Saya anak Psikologi namun ikut miris dengan keadaan lingkungan kita. Beberapa bulan lalu saya pernah mengikuti Peringatan Hari Lahan Basah Dunia di Aceh. Salah satu rangkaiannya adalah pelepasan tukik atau anak penyu. Saya mendapati fakta bahwa salah satu penyebab kematian dari mereka adalah plastik.

Menurut data inSWA dari seluruh sampah yang ada, 57 persen ditemukan di pantai berupa sampah plastik. Sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera bahkan kedalaman sampah plastik di Samudera Pasifik sudah mencapai hampir 100 meter. Ngeri enggak tuh? Kalau saya sih ngeri.

Belakangan terobosan tekhnologi berusaha memecahkan masalah ini dengan menciptakan kantong plastik ramah lingkungan. Yap, tapi bagaimana pun kantong plastik tersebut membutuhkan waktu untuk terdegradasi oleh bumi.

Ada yang bilang “Shof, daripada kita mengutuk kegelapan, mending kita nyalakan lilin deh”. Oke, apa yang sekarang bisa kita lakukan? Mari kita diet kantong plastik! Sederhana. Pertama kurangi penggunaan kantong plastik. Kedua, mari kembali ke zaman dahulu. Apa tuh? Kita gunakan tas belanja yang bisa dipakai berulang-ulang. Yoi, tas mamak-mamak yang biasa dipakai kalau belanja ke pasar. Very jadul but impactful.

a tas mamak

Dengan langkah sederhana di atas secara tidak langsung kita sudah menerapkan pola hidup 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle(mendaur ulang). Gaul kan? Yoi.

Ahmad Shofwan Muis

Surakarta 9 Januari 2015

Sebenarnya lagi kangen mamak di rumah, makanya keingetan mamak yang belanja ke pasar dulu pakai tas yang kayak di gambar. Hehehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s