Tokoh Idola

Motivator terbaik adalah diri sendiri. Karena sebaik-baik motivasi adalah rasa lapar. Oke becanda. Maksudnya motivasi itu tumbuhnya dari internal diri. Namun saat ditanya inspirator, tentu datang dari tokoh idola. Tokoh idola saya begitu banyak. Saya begitu rakus untuk belajar.

image

Pertama. Tentu jawabannya tak lepas dari Rasulullah SAW dengan kehebatannya di berbagai bidang, seorang entrepreneur, pemimpin dan juga lelaki yang lovely. Untuk kedaerahan saya selalu mengidolakan pak Jusuf Kalla dan pak Anis Matta. Selalu dengan ciri khas yang sangat Bugis menurut saya. Pak JK dengan cas-cis-cus, keterbukaan dan ghirah perjuangannya. Pak Anis Matta dengan “sampai tujuan sebelum berangkat”-nya (petuah Bugis). Ia mampu menjadi nahkoda di tengah terjangan badai. Begitu melewati badai ternyata dirinya diganti. Cukup mengejutkan memang. Namun dengan ikhlas ia mengikuti garis jalan juang tersebut. Gejolak justru muncul dari sisi lain, banyak yang tak menerima keputusan digantinya Anis Matta. Namun siapa yang meredam gejolak tersebut? Seorang Anis Matta jua lah yang meredam. Ia mampu membesarkan hati orang-orang yang mendukungnya. Agar para jundiyah tersebut tidak keluar dari jalan da’wah hanya karena berbeda pendapat dengan hasil Majelis Syuro. Karena sebenarnya dia bisa sampai ke tempat tujuan sebelum ia dan orang-orang lain berangkat. Ia seperti mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui. Digantinya Anis Matta dengan Sohibul Iman tentu cukup ampuh mengurangi turbulensi yang menerjang PKS. Yap, dalam perjuangan memang kadang kala kita dituntut untuk bersiyasi.

Tokoh idola saya begitu banyak. Saya mengidolakan mama dan bapak saya. Mereka sebenarnya bisa cukup jumawa dengan kebun sawit dan kakao yang dimiliki namun mereka tidak menghentikan langkah. Anak-anaknya disekolahkan setinggi-tingginya. Di rumah, mereka tidak tinggal diam menunggu hasil buah dari sawit dan kakaonya. Mereka membuka warung makan agar waktu yang dimiliki lebih produktif. Saya mengidolakan bapak saya, karena beliau mampu mengalahkan jeratan maut dari rokok. Ya, dengan bangga saya mengatakan “Bapak saya bukan lagi perokok”.

Saya mengidolakan ibu-ibu yang saya jumpai pagi tadi. Jam empat subuh ia sudah keluar rumah untuk mencari nafkah ke Pasar Gede, salah satu pasar tradisional di kota Solo. Saya mengidolakan adek penjual koran di perempatan Panggung dekat kampus saya. Saya masih ingat betu di awal semester kuliah, adek tersebut masih berseragam putih merah dan saat ini ia sudah berseragam putih biru. Iya, kamu tak salah baca. Si adek tersebut memang langsung berjualan koran sepulangnya sekolah.

Saya mengidolakan adik-adik saya di BEM UNS. Mereka mampu mempercayakan arah geraknya kepada seorang Shofwan. Seorang Menteri pengganti dan orang yang bahkan baru dikenal. Kamu tahu kan bahwa pelajaran “percaya pada orang lain” itu adalah tingkat lanjutan dari “percaya pada diri sendiri”?. Tidak mudah menjalankannya.

Saya juga mengidolakan seorang teman yang dengan tulus membeli keset kaki dan sapu lidi dari penjual di sekitaran kampus. Meski sebenarnya ia tak terlalu membutuhkan namun ia membeli dengan niat membantu. Ia lebih memilih memutar uang yang dimilikinya daripada sekadar mengendap di dompet. Dia berkeyakinan jika uang tersebut bermanfaat, tentu akan lebih banyak uang yang akan datang ke kantongnya. Entah melalui jalan yang mana, entah bagaimana caranya

Untuk menjadi inspirator, bahkan saya tak hanya sekadar mengidolakan manusia. Saya mengidolakan lampu lalu lintas perempatan Ngoresan di belakang kampus UNS. Banyak yang tak menggubrisnya, namun ia tetap menjalankan tugasnya sebagai lampu lalu lintas. Tetap setia berganti dari hijau, kuning ke merah meski ia tahu banyak yang sudah buta warna karena membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Yap, semua terlarut konformitas. “Terobos saja lampu lalu lintasnya. Orang-orang lain juga pada gitu kok”. Jika ia makhluk hidup, mungkin si lampu lalu lintas akan sangat berbahagia ketika ada satu dua orang yang memilih menjadi normal di antara orang-orang abnormal. Memilih menaati lampu lalu lintas, berhenti di saat merah meski kuping panas karena diklakson dan diteriakin orang menjadi taruhannya.

Terkadang kita hanya harus duduk diam beberapa menit sembari mengamati. Dan kita akan menyadari bahwa betapa banyak inspirator yang bisa kita jumpai di sekitar kita.

Sore gerimis di warung Murni belakang kampus.
Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

4 thoughts on “Tokoh Idola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s