Indonesiaku

image

Membayangkan begitu banyak masalah di negeri ini. Ingin rasanya kembali ke masa kecil. Masa dimana masalah hanya sekadar disuruh tidur siang di jam bermain.

Terkadang hal tersebut terlintas di pikiranku.

Mau tidak mau permasalahan negeri ini menjadi permasalahan individu di dalamnya. Terlebih untuk pemuda. Masalah tersebut ada untuk dicarikan solusinya.

Baik. Ini bukanlah tulisan tentang gagasan bagaimana membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Jika kamu berpikiran demikian, sebaiknya tutup dengan segera tulisan ini.

Tulisan ini hanyalah curahan rasa kesalku. Terhadap sekitar. Terhadap diriku sendiri.

Masalah di balik grasa-grusunya pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung. Masalah Syiah, JIL dan tetek bengeknya. Penggantian Imam Besar masjid Istiqlal yang ternyata diiringi sorak-sorai dari kalangan Syiah. Ada apa? Masalah pernyataan “Jenggot bodoh” dari seorang tokoh yang harusnya menjadi panutan. Masalah penggeledahan KPK di gedung DPR yang tabrak aturan sana-sini. Masalah sebuah peer group support untuk LGBT di Universitas Indonesia yang baru-baru ini seperti sedang naik daun. Masalah seorang profesor yang di-hotel-prodeo-kan karena terlalu vokal berkicau di twitter. Masalah seorang supir taksi yang ditilang karena polisi yang tak mampu membedakan antara berhenti dan parkir. Masalah orang-orang yang tidak mempedulikan lampu lalu lintas di jalan Ngoresan belakang kampus UNS. Masa…. Ah masa bodoh.

Aku ingin kembali ke masa kecilku dulu. Masa dimana beban di pundakku tak jauh-jauh dari masalah harus menghabiskan sepiring nasi tanpa ada yang tertumpah di meja makan. Aku ingin kembali ke masa kecilku dulu. Masa dimana beban di pundakku tak jauh-jauh dari masalah harus tidur siang meski aku ingin keluar bermain layangan bersama teman-temanku.

Aku adalah anak muda yang lemah. Ingin rasanya selalu menebar energi positif ke sekitar. Ingin rasanya selalu menebar rasa optimis untuk sesama. Namun ternyata di titik ini aku tak sanggup. Rasa kesal dan mengeluh yang sekian lama kupendam ini akhirnya keluar juga.

Sekali lagi. Jika kamu berharap membaca tulisan yang bagus, segera tutup tulisan ini. Aku takut tak bisa memenuhi ekspektasimu. Ini hanyalah tulisan katarsis seorang anak muda yang sedang mengeluh.

Tak bisa lagi keluhan ini kutahan. Di linimasa twitter, tampak kicauan-kicauan permasalahan negeri ini makin banyak saja. Mungkin memang salahku sendiri. Aku mungkin salah memilih kanal saluran informasiku. Ataukah memang permasalahan negeri ini yang sudah terlalu banyak sehingga tak bisa disembunyikan lagi? Aku berharap kalimat terakhir tidak benar.

Indonesiaku? Bukan bukan. Setelah kupikir-pikir. Ini bukan tentang Indonesiaku. Ini tentang permasalahanku sendiri. Tetaplah berkibar Indonesia. Jangan seperti merah putih yang ada pada gambar yang kuambil di puncak Lawu di atas.

Dari yang mungkin hanya sedang butuh duduk tenang dan merenung untuk saat ini.
Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s