Cerita tentang Mimpi

Kepalaku begitu ramai pagi ini. Ramai akan suara-suara yang ingin segera dituangkan. Salah satu dari suara itu becerita tentang mimpi yang baru saja kualami.

Senyum sumringah masih menghiasi wajahku saat menulis ini. Serasa tanganku sangat ringan mengetik kata demi kata. Aku begitu bahagia. Hari ini aku memimpikan dia. Seseorang yang beberapa hari yang lalu baru saja mengirimiku pesan setelah lama tak ada kabar. Seseorang yang dekat dan dulu sering menjadi alasanku tersenyum.

image

Mimpi yang absurd sebenarnya.

Aku berada di keramaian di atap sebuah gedung yang lapang dan tampak seperti parkiran mobil. Tiba-tiba suara tembakan dari gedung tinggi di seberang memecahkan suasana. Seorang lelaki terjatuh. Oh tidak! Peluru menembus keningnya. Kami semua seperti cacing tanah yang dibubuhi bubuk garam. Panik. Kemudian belingsatan mencari tempat berlindung. Sepemberaninya diriku, aku tetap tak berani menghadapi peluru. Suara-suara letupan senjata itu masih bersahutan di gedung seberang. Suaranya sama persis dengan senjata SS-1 buatan PT Pindad yang pernah kugunakan saat kegiatan sosialisasi Bela Negara di Magelang. Di titik ini, aku tersadar bahwa aku sedang bermimpi. Ada bagian dimana aku bisa mengingat-ingat kejadian yang pernah terjadi dan mirip dengan adegan di mimpi. Aku sering merasakan hal seperti ini di tengah bermimpi dan seperti biasa, jika aku tak terbangun maka mimpi itu berlanjut.

Di sebelahku ada seorang wanita muda. Oh tidak. Terlalu sederhana dengan penyebutan ‘wanita muda’. Dia bidadari! Di tengah kecemasan akan peluru sedari tadi, aku tidak menyadari keberadaan wanita ini. Dia. Dia! Dialah seseorang yang kuceritakan di bagian awal tulisan ini.

“Loh kamu kok bisa di sini juga? Gimana kabar?” bahkan di dalam mimpi pun aku selalu bodoh di depan wanita. Di tengah desingan peluru bisa-bisanya aku bertanya kabar.

Aku bukan lelaki super seperti yang digambarkan di film-film Hollywood. Segera menggandeng tangan wanita di sebelahku, mengajaknya berlari menghindari terjangan peluru, bisa keluar dari situasi darurat dan berhasil menyelamatkan dunia. Bukan. Aku bukan lelaki seperti itu.

Aku masih tiarap di tempat berlindung. Beberapa kalimat percakapan sempat terlontar dari kedua mulut kami. Tampak jelas ketakutan dari wajah jelitanya. Rasa takut yang ada dalam diriku sempat terdistraksi karena kehadirannya. Ah, dasar aku ini.

Dari tangga ujung gedung sekilas terdengar seperti ada suara radio komando. Ah benar saja. Itu sekelompok pasukan penyelamat! Lengkap dengan atribut dan persenjataan militernya. Bahkan lebih lengkap dari Brimob yang kemarin mendampingi tim KPK menggeledah ruang-ruang di gedung DPR, pikirku.

“Kita akan selamat,” ujarku ke wanita di sebelah sembari melemparkan senyum menguatkan. Hanya itu yang bisa kulakukan. Tidak mungkin aku memegang tangannya untuk meyakinkan dia seperti adegan di FTV. Aku bukan mahramnya.

Singkat cerita, aku sudah berada di tali penyelamat. Tali webbing dan figur eight lengkap di ujungnya. Kami dievakuasi dengan cara vertikal menuju bagian belakang gedung. Sedikit demi sedikit akhirnya aku sudah sampai di bawah.

“Sebentar, ada yang kurang!” sentakku dalam hati sembari mengecek ke kiri dan ke kanan. Mana dia? Wanita yang tadi di sebelahku? Bukankah dia harusnya sudah lebih dulu ada sebelum aku? Setahuku prinsip penyelamatan adalah wanita selalu didahulukan. Ah tidak! Di mana dia?

Satu demi satu orang di atap tadi sudah berhasil dievakuasi. Namun aku belum melihat sosoknya. Bahkan di mimpi pun aku masih bisa mengkhawatirkannya. Ya, mungkin karena mimpi adalah segala sesuatu yang kita represi di kehidupan nyata.

Beberapa menit kemudian penawar kekhawatiran itu akhirnya tiba. Dia muncul dari balik jendela, diturunkan dengan sangat perlahan melalui tali.

“Alhamdulillaaaaah,” kataku.

Begitu dia menjejak tanah dia tersenyum ke arahku. Senyum itu yang membuatku terbangun.

Kenapa dia tiba-tiba muncul di mimpiku? Kenapa? Pagi ini padahal aku ingin bermalas-malasan tapi kehadiran dia di mimpi membuatku bangun lebih pagi. Huh. Menyebalkan, sekaligus membahagiakan.

Selalu menarik saat membicarakan mimpi. Ada yang berkata ini hanya bunga tidur. Dalam psikologi ia disebutkan sebagai imajinasi terdisosiasi atau terkadang keingingan yang tersembunyi di balik alam bawah sadar.

Di detik ini ada rasa ingin bertanya, apa sebenarnya tujuan dan mengapa aku memimpikan dia pagi ini? Namun di detik berikutnya aku berpikir, untuk apa aku memusingkan hal tersebut? Bahkan para ilmuwan pun masih berselisih pandang terkait apa tujuan dari mimpi. (Lebih lengkap tentang mimpi bisa cek di http://www.faktailmiah.com/2010/07/16/mimpi.html)

Saat ini dia masih sedang dititipkan ke tangan yang lain. Namun aku tak pernah bersedih. Bukankah aku masih bisa menjemputnya di langit?

Semoga nanti malam atau entah kapan, aku bisa bertemu dengannya lagi. Meski hanya semu dalam mimpi.

Dari yang mengagumi dia dalam diam.
Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

3 thoughts on “Cerita tentang Mimpi

  1. Mari ngobrolin tentang kepenulisan lagi! Mehehehehe. Sore ini kita akan belajar tentang kalimat langsung. Jadi, bagaimana penulisan kalimat langsung yang baik dan benar?

    Begini:

    Mursyidah mengatakan dengan dahi berkerut, “Itu Atun ya?” sembari menunjukkan pada seseorang berjalan di seberang kami.
    –> koma terletak sebelum tanda kutip pertama.

    “Lah iya! Itu Atun,” jawabku sembari menahan tawa.
    –> koma diletakkan sebelum tanda kutip penutup.

    Jadi, pada hakikatnya, tanda baca selalu diletakkan sebelum tanda kutip penutup. Dan, tidak ada tanda baca sesudah tanda kutip penutup.

    Dan oh untuk makna muhrim, mungkin kamu bisa gugling. Hihihi.

    Sekian. Selamat menyeruput. Salam dari timur Jakarta yang sedang di-ngin.

    • Nah. Kan. Benar yg kutebak. Kamu akan mampir di tulisan ini dan mengomentari hal tersebut. Haha.
      Baru banget tahu juga nih, tadi di wattpad nemuin tata cara menulis dan tanda baca. Ada dijelasin tentang ini. Sengaja aja belum diedit. Biar ada yang mengkritisi dulu. Dan juga lagi males edit lagi. Haha
      Eh ngomong-ngomong penggunaan “Dan” itu bisa di awal kalimat gak sih?

  2. Nah, untuk itu, aku meyakini bahwa boleh-boleh saja. Karena, pada dasarnya, karya sastra itu memang dimaklumi jika lepas dari ‘peraturan’. Jadi, berbahagialah! #ehkumaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s