Menyoal Isi Hati Wanita

InsyaAllah jika aku masuk surga nanti dan diijinkan mengetahui semua rahasia dunia, maka aku ingin mengetahui dimana Atlantis dan bagaimana menebak isi hati wanita.

image

Menebak isi hati wanita sama serunya dengan memperbincangkan tentang Atlantis yang hilang. Sebagian berdasar teori tapi tak sedikit juga yang berasumsi menurut pemikiran dan tebakannya sendiri.

Bayangkan, entah dengan teori apa kamu bisa menjelaskan seorang wanita di jalan raya mengendarai motor dan menyalakan sign ke kiri tapi ternyata dia belok ke kanan. Bisa dijelaskan dengan teori apa?

Bayangkan bagaimana kamu bisa menjelaskan makna emoticon senyum di penghujung kalimat pesan singkat dari seorang wanita? Mungkin sama sulitnya dengan menjelaskan siapa dalang di balik tragedi 98.

Bayangkan kamu sedang ingin main PES di sekre bersama teman-temanmu. Kamu meminta ijin kepada wanita dan dia mengijinkanmu. “Yawda deh. Pergi gih.” Namun setelah kembali dari main PES kamu mendapatinya ngambek hingga berhari-hari. Bisakah kamu menjelaskan hal tersebut?

Atau berbicara tentang ‘terserah’-nya wanita? Salah menerjemahkan sama halnya dengan merisikokan keselamatanmu. Mungkin Jenderal Tien Feng atau yang kita kenal sebagai Cu Pat Kay juga sering salah menerjemahkan ‘terserah’ dari Chang E hingga akhirnya dia mengeluarkan kata-kata “Sejak dulu, beginilah cinta. Penderitaannya tiada akhir…”

Wanita adalah makhluk yang paling lihai membuat para lelaki pusing tujuh keliling. Namun sepusing-pusingnya lelaki, mereka tetap akan mencintai wanitanya. Begitulah aturan di dunia ini dituliskan. Sama halnya dengan Cu Pat Kay yang tetap mencintai Chang E meski harus dihukum 1000 reinkarnasi dan di tiap kehidupan tersebut dia harus merasakan patah hati.

Namun baru-baru ini di youtube aku melihat sebuah penemuan baru. Sebuah alat penerjemah kata-kata wanita. Diklaim alat ini bisa menerjemahkan kerumitan bahasa wanita dengan mengkombinasikan frekuensi, intonasi bicara, logika bolak-balik wanita dipadukan dengan kombinasi algoritma yang rumit dan tekhnologi terkini dalam sebuah chip. Sungguh hebat alat ini. Aku membayangkan ada berapa juta lelaki yang akan terselamatkan hidupnya dengan adanya alat ini. Namun entahlah, aku juga kurang mengerti alat di video tersebut benar-benar sebuah alat penemuan ataukah hanya hasil kerjaan orang-orang yang ingin menghibur orang lain. Yang jelas dengan melihat video tersebut aku semakin yakin bahwa sebenarnya wanita memang bukan makhluk yang berbeda planet dengan lelaki sebagaimana judul buku ‘Lelaki berasal dari Mars, wanita berasal dari Venus.’

Mungkin memang hanya butuh waktu yang lebih antara wanita dan lelaki untuk saling mengerti. Ada banyak bukti bahwa pasangan-pasangan yang sudah lama hidup bersama mampu meredam ataupun saling mengerti perbedaan di antara mereka. Sungguh geli bercampur bahagia ketika melihat kedua orangtuaku berantem lucu. Perbedaan pendapat biasanya yang menjadi pemicu. Beberapa saat di awal salah satu di antara mereka ngambek, mendiamkan. Namun beberapa saat kemudian setelah suasana menjadi canggung dia pula yang berusaha membuka pembicaraan untuk memperbaiki keadaan. Dan berantem lucu ini diakhiri oleh pelukan. Di depan anak-anaknya. Uuuwuwuwuwu….

Di balik ini semua, sungguh kerumitan wanita diciptakan untuk menjadi tantangan bagi kaum lelaki. Apa serunya hidup yang tidak ada tantangan? Bukankah begitu, tulang rusukku?

Dari seseorang yang masih memantaskan diri agar bisa memahami kerumitan wanita dalam dekapan ikatan yang halal
Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

5 thoughts on “Menyoal Isi Hati Wanita

  1. Entah bagaimana, aku yakin bahwa siklus diskusi mirip dengan pernikahan. Di mana, sebenarnya kedua pihak (suami dan istri) harus sadar dulu bahwa akan ada masanya ketika akad bukanlah penyatu pendapat. Berbeda itu wajar dan pasti ada. Tetapi, bagaimana keduanya belajar mengelola perbedaan itu, mengubah pikiran yang bertendensi menjadi sesuatu yang netral ketika keluar dari mulut. Ada waktunya bertengkar itu dibutuhkan, tetapi ada waktunya mengalah itu juga dibutuhkan.

    *iya aku curhat, kemarin habis dibabat di diskusi komunitas sampai bikin aku ogah lagi. karena beberapa orang cenderung bertendensi melabel kalau aku orang kiri, bahkan orang yang dekat denganku bilang bahwa kalau aku sudah mulai buka diskusi, dia gak mau komentar karena takut bertengkar. sakit tahu digituin hahahaha*

    Oh, jadi poinku adalah, kayaknya alat penerjemah bahasa perempuan gak dibutuhkan deh. Karena dengan begitu, bertengkar akan berkurang, belajar memahami akan terasa percuma.

    • Tahu nggak apa hal yang paling membuatku deg-degan setelah ketemu Dosen Pembimbing di semester baru? Liat notifikasi komentar baru dari seorang Annisa Fitrianda.
      Komunitas apa tuh? Ya untuk menerima ide orang emang susah. Apalagi dengan gaya penyampaian dan analisis kayak punyamu. Aku aja sering deg-degan. Harus selalu nyiapin mental sebelum buka notifikasi
      Dan… Setuju dengan pernyataan terakhirmu. Tapi aku bakal pura-pura gak setuju. Untuk tetap mendukung tulisanku sendiri. Haha

      • HAHAHAHA Shofwan ih! Deg-degan apaan sih! Deg degan eh degan enak tauuuuk!
        Komunitas menulis. Bukan komunitas yang baca yang kemarin kuceritakan. Kalau di komunitas baca mah orang-orangnya pemikirannya terbuka euy. Beda sama orang-orang di komunitas menulis. Padahal bukannya kalau nulis harus banyak baca dan terbuka akan sesuatu yang baru? Hmm curhat lagi. Wkwkwk.

        “Apalagi dengan gaya penyampaian dan analisis kayak punyamu.” Hahaha atuhlah aku tersipu.

        TAPI KAMU UDAH BIMBINGAN????????? AKHIRNYA! *ngaca*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s