Memimpin dari Belakang

image

“Untuk memimpin orang, berjalan lah di belakang mereka” – Lao Tzu, filsuf.

Begitu banyak teori kepemimpinan yang pernah saya jumpai, entah itu dari perkataan orang hingga buku-buku psikologi industri organisasi di bangku kuliah. Kebanyakan dari teori tersebut sangat sering mengungkapkan bahwa pemimpin adalah mereka yang selalu berada di depan, menunjukkan jalan kepada pengikutnya.

Tidak, saya sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan teori-teori tersebut. Untuk diri sendiri, saya lebih nyaman ketika memimpin dari belakang.

Sebelum melanjutkan, ada baiknya saya menjelaskan. Tulisan ini bukan tulisan menggurui tentang bagaimana memimpin, cara memimpin yang baik. Bukan. Sama sekali bukan. Apalah saya. Bukan kapasitas saya untuk bisa menulis dengan tujuan seperti itu. Ini hanya curahan dari apa yang saya rasakan.

Memimpin dari belakang. Saya lebih senang melihat punggung orang-orang yang membersamai saya di suatu medan perjuangan. Bukan berarti saya penakut dan mengorbankan mereka. Bagi saya, orang yang dipimpin bukanlah pengikut. Namun mereka adalah mitra untuk mempercepat tujuan bersama. Bagi saya berada di belakang tetap bisa memberikan arahan, dengan berada di belakang saya bisa menyelaraskan langkah dan kecepatan dengan orang lain. Contoh sederhana saat touring motor. Terkadang jika berada di depan saya sering kali berjalan terlalu jauh hingga meninggalkan yang lain. Daripada saya menghabiskan energi untuk menoleh ke belakang dan memperlambat laju, saya lebih memilih berada di bagian belakang, mengamati. Toh dengan berada di belakang, saya bisa melihat semua apa yang terjadi di depan. Jika terjadi sesuatu saya bisa mempercepat laju dan jika anggota di depan salah jalan saya bisa segera mengingatkan. Dengan berada di belakang, saya merasa bisa lebih melindungi orang-orang yang berada di depan saya.

Sebagai contoh di sebuah organisasi, saya lebih suka memberi pilihan-pilihan rasional dan memberikan kebebasan memilih daripada mendikte dan terlalu mengarahkan orang. Mungkin saja kesuksesan sebuah program kerja akan menjadi taruhannya namun dengan terlalu mendikte di depan tidak akan memberi pelajaran. Toh tujuan utama dari berorganisasi adalah belajar. Kesuksesan program kerja adalah bonus.
Mungkin hal ini juga dipengaruhi budaya. Di Bugis sana adalah pamali jika kita memunggungi orang lain. Dan terkadang hal itu terbawa-bawa hingga saat ini. Saya merasa tak enak hati jika memunggungi orang lain.

Untuk kamu yang membersamaiku. Melajulah secepat kilat. Aku akan selalu di belakang menjagamu.

Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

One thought on “Memimpin dari Belakang

  1. Kamu tahu gak ceritanya Nabi Musa yang berjalan dengan dua orang gadis dan menuju suatu tempat?

    Oke kamu tahu atau enggak, aku akan tetap cerita. Jadi, laki-laki kan harus berjalan di depan perempuan ya? Nah, sementara yang tahu arah ke tujuan adalah kedua gadis itu. Lalu bagaimana? Nabi Musa meminta mereka melemparkan batu ke arah mana selanjutnya kaki mereka melangkah.

    Mungkin ini bisa dijadikan contoh ‘memimpin dari belakang’. Nyambung gak sih? Nyambung kok. Oke sip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s