Hiburan Baru Bernama Leicester City

Musim ini adalah musim dengan momen paling seru liga Inggris setelah momentum keruntuhan Manchester United yang diawali oleh berakhirnya rezim Sir Alex Ferguson.

image

Menurut hemat saya, hiburan paling asyik adalah melihat Manchester United bermain seperti sekumpulan anak-anak yang baru belajar main sepak bola. Bermain tanpa semangat, tanpa jati diri dan kehilangan poin pertandingan demi pertandingan. Bagaimana tidak seru? Selama beberapa zaman Sir Alex Ferguson selalu berhasil membuat tagar #GGMU menjadi tagar paling berisik di linimasa saat matchday berlangsung dengan kemenangan-kemenangannya. Penggemar United menjadi makhluk yang paling jumawa dan merasa paling berhak mengejek para pesaing, terlebih kepada tim yang hobinya bercokol di peringkat ke empat. Berbagai meme dan candaan hilir mudik di sosial media. Namun di rezim Moyes, semua itu berakhir. Hingga saat ini suksesornya Luis Van Gaal tampak belum bisa mengembalikan wajah Manchester United. Kini seolah dengan menyebut ‘Manchester United’ saja, orang-orang bisa langsung ketawa terbahak. Dan tagar #GGMU seakan malu-malu untuk menampakkan diri ke permukaan.

Namun beberapa waktu berjalan, orang-orang (para tim MU haters dan tim pokoknya-jangan-MU) mulai bosan dengan hiburan tersebut. Mereka butuh hiburan baru. Dan tentunya bukan liga Inggris namanya jika tak bisa memberi kejutan. Hiburan baru yang dinanti tersebut akhirnya muncul. Ia bernama Leicester City.

Leicester City muncul seperti pembawa harapan bahwasanya semangat, kerja keras, kerja sama tim mampu mengalahkan hegemoni kucuran dana berlimpah. Menjadi pelepas dahaga menonton perburuan gelar dengan tim yang itu-itu saja. Kemunculan Leicester mampu menciptakan harapan dan menjadi suri tauladan bagi tim lain di dunia sepak bola. Seperti seorang lelaki tak-terlalu-tampan yang mengalami krisis kepercayaan diri dan pada akhirnya meningkat optimismenya karena melihat cowok tak-terlalu-tampan lainnya berhasil mendapatkan cewek yang cakep. Oke penggambaran yang cukup absurd sepertinya. Maksud saya adalah Leicester menjadi panutan bahwa tampang (pemain mentereng dan dana melimpah) bisa saja menjadi modal saat PDKT untuk kemudian menjalin sebuah hubungan (trofi liga), tapi hal tersebut bukanlah segalanya. Kekurangan modal tersebut bisa diatasi dengan kerja yang lebih keras dan sedikit tambahan keberuntungan.

Pekan depan hiburan baru kita ini akan menghadapi tantangan berikutnya. Setelah dengan mengejutkan berhasil mengalahkan pesaing terdekatnya 3-1 di Etihad Stadium, pesaing berikutnya akan menjajal ketangguhan Leicester. Sebut saja Arsenal. Kemenangan adalah harga mati bagi Arsenal. bisa memangkas jarak 5 poin Leicester. Dan tak kalah serunya, di tempat lain Manchester City akan bersua Tottenham Hotspurs. Tentu kedua tim akan berjuang mati-matian demi menjaga asa perburuan trofi liga primer Inggris. Spurs memiliki poin yang sama dengan Arsenal, sedang City berada sedikit di belakang dengan selisih satu poin.

Siapa yang butuh Valentine jika pertandingan bola di atas tadi ada untukmu?

Menarik menantikan hasil matchday tersebut. Namun apapun yang terjadi, Leicester tetaplah menjadi hiburan bagi kita semua.

Dari atas kasur yang nyaman
Ahmaf Shofwan Muis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s