Belajar dari Malaysia yang Belajar dari Indonesia

amalaysia-indonesia-bendera

Beberapa dekade ke belakang pendidikan Indonesia jauh berada di depan Malaysia. Indonesia menjadi acuan pendidikan. Mutu pendidikan kita diakui negara-negara lainnya. Diawali oleh langkah visioner dari pak Harto yang ingin membantu Malaysia karena rasa persahabatan sesama negara Asia Tenggara. Alhasil dikirimkanlah ribuan tenaga pengajar Indonesia termasuk guru dan dosen ke negeri Jiran. Bahkan pemuda-pemuda Malaysia banyak yang dikirim dan disekolahkan ke negeri kita.

Indonesia adalah bangsa yang merebut sendiri kemerdekaannya dengan jalan perjuangan dan lobi-lobi diplomatik tingkat internasional sedangkan Malaysia baru memperoleh kemerdekaannya 12 tahun setelah Indonesia dan diproklamirkan oleh Inggris. Namun kini Malaysia sudah berlari jauh dari saudara serumpunnya. Pendidikan Malaysia kini jauh melampaui pendidikan Indonesia. Dan dari pendidikan ini semua lini kehidupan di Malaysia ikut terdongkrak naik menyaingi Indonesia.

Dahulu kita mengirimkan guru untuk mencerdaskan Malaysia dengan dibayar lebih tapi kini kita hanya bisa mengirimkan Tenaga Kerja dan bahkan kini anak muda kita yang gantian dikirim ke Universitas-universitas di Malaysia.

Kali ini saya tidak ingin membahas tentang TKI ataupun segala tautan pembahasan sensitif yang disebabkan oleh propaganda nasionalisme dan menyebabkan dua negara satu rumpun dibuat seolah bermusuhan. Saya hanya ingin bisa belajar dari Malaysia dan menerapkan konsep belajar tersebut di kehidupan sehari-hari. Malaysia jika kita anggap ia seorang individu, ia adalah individu yang terbelakang. Masih terhitung pemula di dunia belantika per-negara-an. Untuk menjadi individu yang unggul tentu ia harus banyak belajar dari lingkungan sekitar. Daripada bereksperimen sendiri yang memiliki probabilitas kesuksesan sangat kecil, lebih baik dia belajar kepada mentor. Seseorang yang lebih handal di bidangnya. Dengan belajar kepada yang lebih bisa dan sudah sukses, individu Malaysia bisa mengurangi kemungkinan mereka menemui kegagalan atau kesalahan karena tentu sudah diperingatkan terlebih dulu oleh mentornya yang  pernah melakukan kesalahan tersebut.

Namun malangnya, banyak di antara kita tidak bisa menurunkan ego ataupun gengsi untuk bisa menjadi seperti Malaysia. Padahal apa salahnya menyingkirkan ego sejenak demi suatu kebaikan? Malaysia berhasil menyingkirkan ego dan mempelajari banyak hal dan kini bahkan bisa menyalip Indonesia dalam hal kebaikan.

Mari. Singkirkan ego,  lapangkan hati. Bumi Allah ini sangat luas. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang terserak. Jangan sampai hanya karena gengsi kita menjadi katak di dalam tempurung dan tidak mau belajar kepada yang lebih dahulu bisa. Di manapun kita berada, di manapun bidang kita bergerak. Mari belajar, mari menghimpun hikmah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s