Mendaki Gunung Lawu Seorang Diri

Sabtu pekan lalu menjadi hari dimana poin di daftar kenekatan saya bertambah lagi. Solo hiking menuju puncak Hargo Dumilah gunung Lawu dan tektok!

image

Nekat tanpa persiapan adalah bunuh diri. Jadi meskipun terbilang nekat, petulangan kali ini tetap dengan persiapan matang. Tetapi sebenarnya tektok dan solo hiking ini bukanlah rencana awal melainkan rencana cadangan dari saya. Tiga minggu sebelumnya bersama beberapa teman kami sudah merencanakan perjalanan penutupan menyambut Ramadhan. Terpilihlah H-3 Ramadhan untuk mendaki Lawu. Tetapi beberapa hari menuju hari pendakian, mulai tercium gelagat-gelagat wacana. Satu persatu kawan membatalkan keikutsertaannya. Tertinggal satu kawan yang bisa menemani. Okelah, menurut saya berdua sudah cukup untuk menuju Lawu. Kami bisa berbagi perlengkapan nesting dan kompor. Untuk tenda tidak perlu karena kami bisa menghabiskan malam di warung mbok Yem di Hargo Dalem.

Tetapi karena saya menangkap keragua-raguan dari teman tersebut alhasil saya mengumpulkan referensi dari berbagai sumber bagaimana persiapan solo hiking. Dan yang paling utama adalah persiapan mental.

Sehari sebelumnya, di hari jumat segala pelengkapan nanjak berdua sudah disiapkan. Nesting kompor dan logistik sudah masuk ke dalam carrier. Jam 1 malam motor digeber dari Solo menuju basecamp Cemoro Kandang gunung Lawu. Hingga saat itu, belum kunjung ada kabar dari kawan yang sedianya ikut nanjak. Ditambah lagi saya baru ingat sabtu malam jam 8 ada jadwal untuk jadi pemateri di upgrading salah satu himpunan mahasiswa UNS.

“Okelah, mungkin ini memang sudah saatnya. Kalau memang dia tidak datang berarti ‘show must go on’ dan ini akan menjadi Solo Hiking pertamamu Shof,” pikir saya sebelum beristirahat. Dalam mata yang tertutup menuju tidur saya berusaha mengumpulkan mental.

“Baiklah rencana berubah (lagi). Setelah subuh, petualangan akan dimulai. Lindungi hambamu ini ya Allah.”

Pergulatan batin masih terjadi menuju lelap dini hari itu.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Setelah sholat subuh di tengah dingin yang menyengat barang diloading ulang. Nesting, kompor dan beberapa logistik berat dikeluarkan. Setelah menimbang-nimbang sleeping bag tetap di dalam carrier. Mengantisipasi hal buruk terjadi kalau-kalau saya tidak kuat dan ternyata harus bermalam di atas. Dengan konsekuensi barang bawaan akan lebih berat. Dan sebenarnya settingan tersebut kurang pas untuk orang yang ingin tektok (naik dan langsung turun lagi). Biasanya dengan day pack, bukan carrier untuk memudahkan perjalanan dan akan lebih cepat.

Sebungkus nasi telur dari ibu-ibu di basecamp menjadi pengisi energi pagi itu. Satunya lagi dibawa untuk makan di perjalanan.

Bersama tarikan nafas, “InsyaAllah kuat. Target jam 12 sampai puncak dan jika belum sampai puncak, dimanapun berada harus langsung turun.” Carrier diangkat dan perjalanan dimulai.

image

Advertisements

Menyegarkan Tubuh dan Hati di Umbul Sigedang Klaten

Menjadi tidak biasa adalah kebiasaan yang selalu ingin saya lakukan. Termasuk memilih tempat tujuan. Ingin berenang, foto di bawah air kebanyakan orang mungkin akan pergi ke Umbul Ponggok. Bukan karena apa, Umbul Ponggok memang sudah lebih dulu terkenal dibanding umbul-umbul yang lainnya. Salah satunya adalah Umbul Sigedang.

image

image

Umbul Sigedang sama halnya Ponggok, terletak di daerah Klaten. Yap, Klaten memang terkenal dengan titik-titik mata air. Salah satu perusahaan air mineral ternama di negeri inipun mengambil air dari daerah ini.

Bagaimana akses ke Umbul Sigedang? Untuk saat ini kendaraan pribadi yang paling memungkinkan membawamu. Di daerah Delanggu, jalan Jogja-Solo kamu akan mengambil jalan “mlipir” berbelok ke arah dalam tepatnya Pulonharjo. Nah, umbul Sigedang ini searah dengan Water Gong. Panorama persawahan di kiri dan kanan akan menemani perjalanmu.

Umbul ini tak seramai umbul Ponggok. Mungkin sekilas akan telintas pikiran kurang meyakinkan saat pertama kali tiba. Parkiran dengan kanopi, tiga warung dan empat kamar ganti menjadi fasilitas yang menyambut kedatangan.

Tidak menunggu lama, langsung byurrr. Dan brrrrr…. Airnya benar-benar dingin! Padahal saat itu matahari sedang tinggi-tingginya. Mungkin karena sumber airnya langsung dari mata air yang alami. Dangat berbeda dengan kolam renang yang penuh kaporit. Terbukti dengan banyak ikan seperti ikan mas dan semacamnya yang hidup dan berenang bersama kita di umbul ini. Tambah lagi rambut tidak keras, saya masih bisa merasakan aroma bekas sampoan tadi malam di rambut. Dan karena saya orangnya iseng, sempat nyoba berenang sambil minum air dalam arti harafiah.

Sempat terlontar candaan “Berenang di umbul Sigedang sangat mewah. Bayangkan satu botol air mineral ternama berharga Rp 3.000 dan kamu berenang dengan bergalon-galon air mineral hanya dengan bayar Rp 8.000!” Hal tadi terlontar karena fakta yang sudah saya sebutkan di bagian awal.

Kenapa sangat murah? Ternyata tak ada biaya masuk maupun parkir! Kita cukup membayar biaya jajan dan kamar ganti & bilas yang sangat terjangkau yaitu Rp 2.000. Apa gak edan? Kendaraan kita akan diawasi oleh ibu-ibu warung tempat kita jajan, pun dengan tikar yang kita gunakan juga dari warung tersebut.

Untuk kamu kaum hawa yang terkadang menghindari kegiatan luar ruangan karena takut kulit hitam, tak perlu khawatir. Berenang di umbul ini tak membuatmu menjadi hitam. Kamu akan terhindat dari sengatan sinar matahari berkat pepohonan rimbun yang ada di sekitar umbul.

Sudah lah adem, murah lagi. Benar-benar menyegatkan tubuh dan hati tanpa dompet yang kering.

image

image

Lantas tunggu apa lagi? Jangan tunda dirimu untuk berkunjung ke umbul Sigedang.