Memanjat Tribun Stadion Demi PSM Makassar

Cinta tidak pernah menjadi hal yang buruk. Jalan untuk meraih atau memenuhinya yang terkadang salah. Yap, hal tersebut pernah terjadi pada Shofwan kecil saat SMP dulu.

Kelompok suporter Macz Man

Mencintai sepak bola dan PSM Makassar adalah setting default dari anak-anak di Sulawesi Selatan. Hal tersebut mengalir di darah kami. Puncak kecintaan kami bisa tersalurkan di setiap pekan pertandingan kandang PSM. Di saat anak-anak kota lain mungkin membanggakan jalan bareng pacar,  jumlah menonton pertandingan PSM adalah hal yang bisa dibanggakan kepada teman-teman sepermainan kami di sini.

Masih kuat terekam di kepala. Saat itu kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia masih bernama Ligina (belum berganti menjadi ISL). PSM bertindak selaku tuan rumah di rumah kebanggaan kami Stadion Mattoanging. Di saat yang sama menjadi ajang pembuktian striker asing anyar asal Togo Saibou Badarou yang direkrut untuk melengkapi kuartet asisng yang lebih dulu ada Nomo Teh Marco (Togo), Ouadja Lantame Sakibou (Togo), almarhum Ali Khaddafi (Togo) dan Aldo Baretto (Paraguay).

Alkisah saya dan seorang teman (Uki) sudah menginjakkan kaki di halaman stadion. Namun ada yang terlupa. Tiket kami terbawa oleh teman yang lain! Detik-detik menjelang kick off, kami belum kunjung bisa bertemu dengan dia. Entah kenapa kami tak bisa menghubunginya. Mungkin karena di tempat ramai, sinyal crowded menyebabkan handphone monochrom milik Uki tak kunjung mendapat respon. Oiya, di jaman itu anak SMP yang bawa handphone masih langka.

Membeli tiket lagi rasa-rasanya sudah tidak mungkin karena membeli tiket tribun terbuka seharga 15.000 saja kami harus menabung. Di tengah kebingungan, secercah harapan mulai muncul. Dari atas tribun terbuka ada beberapa orang yang memanggil dan mengulurkan sarung (beberapa sarung disambung-menyambung hingga ke bawah). Kami serasa dua orang pangeran yang mendapat uluran rambut Rapunzel yang panjang untuk segera naik ke menara.

“Oi naik mako!!! Seribu mo saja bayar.”

(Oi ayo kamu naik!!! Bayar seribu aja)

Di sini drama dimulai, adegan berikutnya adalah adegan memacu adrenalin seperti di film action.

Sadar tak ada jalan lain untuk menuntaskan cinta pada hari itu, kami langsung berlari melompati kanal pemisah dinding tribun dan meraih sarung untuk naik ke atas. Uki yang mendapat giliran naik pertama. Namun belum juga Uki sampai di atas, di belakang kami ada prajurit TNI (bertugas menjadi pengaman pertandingan) yang mengejar sambil mengacung-acungkan tongkat rotan. Dia juga sudah melewati kanal. Detik serasa berjalan sangat lambat. Akhirnya sarung sudah di depan mata, dan masalah lainnya muncul. Saya takut ketinggian! Pergolakan batin pun terjadi. Antara takut ketinggian atau takut disabet rotan. Mengalahkan ketinggian berhadiah pertandingan, kalah dengan ketinggian berhadiah sabetan rotan. Oke, dengan satu tarikan napas yang panjang saya meraih ujung sarung. Hap! Saya memegangnya dengan erat, orang yang di atas pun mulai menarik sarung dan dibantu dengan kaki untuk menyeimbangkan akhirnya saya sampai di atas. Uyeah!!!

Dari atas terlihat petugas tadi sungguh sudah dekat mengayunkan rotan. Nyaris bung!!! Beberapa suporter tertawa sembari berepuk tangan begitu saya sampai. Mungkin karena kenekatan kami. Namun saya tak mempedulikannya karena dada yang masih deg-degan. Hvft. Rasanya tidak lagi mengulangi hal tersebut.

Karena memang kami penonton ilegal dan memasuki stadion di detik-detik menuju kick off, akhirnya kami dapat bagian di dekat pagar tempat para suporter Laskar Ayam Jantan berkumpul. Pertandingan itu berakhir seri dengan penampilan Saibou Badarou yang melempem dan membuat suporter tak puas.

Kelompok Suporter Laskar Ayam Jantan

Cinta yang disalurkan dengan cara yang salah. Haha. Masih suka geleng-geleng kepala kalau mengingat kejadian tersebut. Semoga saat ini sudah tidak ada kejadian seperti kami. Jika dipikir kembali, meski mendapat dukungan moril dengan stadion yang penuh sesak, tentu tim kebanggaan tak mendapatkan keuntungan finansial jika banyak suporter ilegal yang hadir di stadion. Dan bisa mengganggu kenyamanan suporter yang membayar karena stadion menjadi penuh sesak.

Kalau cinta PSM, budayakan malu, beliki’ tiket masuk!

Akhirul kalam. Mari mencinta dengan jalan yang halal. Dan maju terus persepakbolaan Indonesia!

Masih dengan cinta yang tak pernah padam kepadamu PSM Makassarku.

Ahmad Shofwan Muis