Himapsi itu Cinta Pertama

Siapapun atau berapa kalipun Himapsi berganti kepengurusan ada nilai yang tak boleh luntur, yaitu cinta. Himapsi adalah keluarga. Himapsi itu cinta pertama.
Ketika kamu lelah, kepada yang kamu cintailah kamu akan datang, menjeda dari kesibukan, menenangkan hati, menyegarkan pikir. Begitulah Himapsi harusnya berperan. Laiknya seorang kekasih yang kita cintai.

Memberikan waktu untuk kegiatan lain di luar kuliah tentu adalah sebuah pertaruhan. Di saat teman-teman yang lain berfokus untuk belajar di kelas, beberapa di antara kita memilih berjuang di dua medan perang, ruang kelas dan ruang pojok di Mesen. Bisa kita sebut apalagi hal tersebut selain bukti cinta?

Benar kata Ucid. Himapsi itu cinta pertama. Terlebih bagi saya yang seorang perantau. Hingga saat ini, kalau ditanya “Asli mana?” Saya jawab “Solo, Solowesi Selatan,” dan kalau ditanya lagi “Ada keluarga di Solo?” ya jawabnya “Ada,” mereka yang menjadi pengurus maupun anggota Himapsi.

Pertahankan kehangatannya, wariskan cintanya. Sungguh hanya karena cintalah kita akan memberikan yang terbaik.

Salam kangen untuk Himapsweet

Ahmad Shofwan Muis dan Mursyid Robbani

Mengetahui Alasan Terjadinya sebuah Peristiwa

​Seringkali kita hanya melihat sesuatu dari permukan. Seperti menjadi bencinya Cinta kepada Rangga yang dengan tanpa babibu tiba-tiba meninggalkannya. Barulah setelah sekian purnama, Cinta mengetahui bahwa menghilangnya Rangga bukanlah keinginan dia semata, tapi lebih karena perintah dari ayah Cinta.


Terkadang mengetahui alasan terjadinya suatu kejadian menjadi bagian yang sangat penting melebihi kejadian itu sendiri. Dengannya kita bisa lebih mengetahui apa sebenarnya isi kepala dan hati dari pelaku suatu peristiwa terhadap diri kita. Dengannya kita bisa belajar memaafkan. Dengannya kita bisa makin mencintai.

Seperti seorang lelaki yang mencintai wanitanya dan dengan tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar. Sang wanita tentu bertanya ada apa gerangan. Setelah beberapa mentari, sang lelaki kembali dan ternyata langsung mendatangi ayah sang wanita. Tanpa memahami alasan di balik terjadinya suatu peristiwa, sudah pasti tak akan ada kata maaf yang terlontar. Dengan memahami alasan di balik terjadinya suatu peristiwa, sudah pasti sang wanita akan semakin cinta kepada lelakinya.

Oke, hubungan cinta tak melulu antara lelaki dan wanita.

Seperti seorang anak yang dalam perantauan berpikiran bahwa orangtuanya yang keras tak lagi sayang padanya, buktinya dia dikirim jauh dari kedua orangtua. Dia beranggapan orangtuanya berhutang beribu maaf padanya karena mengirimnya jauh. Namun ternyata setelah melewati beberapa Ramadhan barulah sang anak menyadari alasan di balik sebuah peristiwa. Di titik tersebut bukan lagi sekadar maaf yang dia sediakan untuk orangtuanya, justru dia yang ingin melontarkan berjuta maaf. Dengan memahami alasan di balik sebuah peristiwa, kecintaan pada orangtuanya meningkat berkali-kali lipat.
Kepada aku, kamu, kita yang saat ini sedang dalam perasaan benci, sedang tidak suka kepada seseorang karena suatu peristiwa. Sungguh selalu ada alasan di balik suatu peristiwa. Meski berat, atau terkadang tak begitu jelas, alasan tersebut selalu ada. Mari kita pahami alasan terjadinya sebuah peristiwa. Mengetahui alasan terjadinya sebuah peristiwa bisa membuat kita berdamai dengan orang lain dan juga tentu dengan diri kita sendiri.
Selamat malam menyambut pagi.

Ahmad Shofwan Muis

Lagi flu berat