Ditembak lagi ama Adek-adek SSC

31 Oktober 2016
Seperti senin sore sebelum-sebelumnya saya memanfaatkan waktu buat ke kelas sore Sanggrahan Study Club.
Sudah saya sadari sejak dulu, anak-anak adalah makhluk kecil “pembunuh” dengan segala kekritisan mereka. Mereka juga pencontoh yang ulung. Lakukan satu kesalahan maka kamu akan diserang dengan pertanyaan menohok. Lakukan satu hal buruk, maka itu akan berbalik kepadamu melalui perilaku mereka yang mencontoh keburukan tadi.
Beberapa minggu lalu, saya ditembak oleh mereka karena saya ke sekolah dengan pakai sendal jepit. Iya, saya memang lebih nyaman dengan sendal jepit. Ke pusat perbelanjaan pun selalu dengan alas kaki kerakyatan tersebut. Tapi sepertinya saya salah tempat.
Sore ini saya menggunakan sepatu dengan harapan tak lagi ditembak kesalahan saya oleh mereka. Alhamdulillah perihal alas kaki saya selamat! Sampai akhir sesi, ada yang nyeletuk “mas Shofwan terlambaaat!!!” Aduh. Sontak air muka berubah dan dipenuhi rasa malu. Iya, tadi memang dari kampus dan saya telat beberapa menit gabung bersama mereka. Bahkan mereka lebih jeli dibanding dosen saya di kampus dalam hal waktu. Bahkan dosen masih memberi toleransi waktu beberapa belas menit. Haha. Tapi gak papa. Lanjutkan!

Di depan anak-anak kita memang harus satu kata, satu perbuatan. Jika tidak, bersiaplah menggali kubur untuk diri sendiri.
Terima kasih adek-adek… Sekali lagi memberi pelajaran pada Shofwan yang bebal ini.

Advertisements

Oreo Penyemangat

“Shof mau ke Jakarta? Ayo ketemuan!” Bunyi pesan whatsapp di ponsel.

Teman baik mungkin tak selalu ada, namun akan selalu berusaha hadir di saat tersedia kesempatan.
Beberapa minggu yang lalu saya menuju Ibukota, tempat beberapa teman dekat yang sudah lulus mengadu nasib. Sayang karena kunjungan yang sangat mendadak ini, hanya satu yang bisa menyempatkan bertemu. Kita janjian di kota tua. 

Senja di kota tua hari itu sungguh indah, namun tak cukup bisa menentramkan hati di sore itu. Pikirku masih kepada dia yang jam 6 petang ini masih di jalan. Waktu berjalan terasa sangat lambat ketika menunggu. 

Setengah 7, pertanda saya sudah harus menuju bis untuk perjalanan kembali ke Solo. Kalau kata jargon pak JK “Lebih cepat lebih baik,” agar kita bisa menghindari kemacetan Jakarta. Dengan kecewa kukabari dia kalau kayaknya kita gak jadi ketemu. Bisnya sudah mau berangkat.
“Bisnya suruh jangan berangkat dulu aja laah. Tungguin aku.” Kata dia seenak jidat. Dikira bisnya punya saya.
Sudah hampir jam 7. Bis ternyata belum berangkat karena masih ada penumpang yang harus ke toilet.
“Okey, ini kesempatan,” pikirku.
Tingtung!

Ada share location di pesan whatsapp saya. Posisi Tya rupanya. Dia sudah di kota tua.
“Ty. Lihat ada indomaret gak? Sebelahnya ada Cafe Batavia, sebelahnya lagi ada jalan kecil, kamu ke jalan situ. Dari situ jalan aja terus menuju tempat parkiran bis kota tua. Agak jauh mungkin 1 KM.”

Dia tak kunjung. membalas. Tidak heran. Pasti dia sedang pusing. Hal wajar karena memang kebanyakan wanita tak bisa membaca peta, termasuk Dora the Explorer dan terlebih seorang Maria Stephani Dwitya.

“Kamu udah di mana? Kalau udah nyeberang jalan bilang ya. Ntar kita ketemu di situ, yang ada haltenya.”
Saya berlari menuju titik tempat janjian. Saya pilih lokasi tersebut karena penyeberangan dekat halte bis itu adalah titik tengah posisi saya dan dia. Jadi win-win solution, supaya gak kejauhan.

“Ty di mana?” Dari jauh saya melihat wanita berambut panjang sedang mengangkat telepon genggamnya.

Ini adalah perjumpaan paling drama di tahun 2016. Jika ini perjumpaan dua sejoli mungkin akan menjadi perjumpaan yang sweet sekaligus penuh ke-alay-an dan perjuangan. Bayangkan ada yang masih menyempatkan bertemu di sela waktu yang sangat sempit.

“Ayo Shof foto dulu!”
“Pakai hapemu aja Ty. Itu latarnya halte bis aja gak papa. Buru ntar ketinggalan bis”
Cekrek cekrek

Yah! Kok muka kita hijau-hijau gini? Yaiyalaaah fotonya depan lampu lalu lintas.

“Ayo Ty. Mau ketemu anak-anak gak di bis? Ada Bunga ama Teten.”

“Yuk, Shof.” Berdua kami kemudian berlari seperti di FTV. Menuju bis.
Pedagang-pedagang di lapak jualan menangkap keresahan kami.

“Santai aja baaang. Bisnya gak bakal ninggal kok.”
Hap!!! Kami sudah di bis.

*Foto berempat*

“Ty ikut aja ampe Solo. Kan weekend.”

“Iya kak Tya ikut aja ama kita. Masih ada kursi kosong kok, pak Arif udah balik duluan tadi.”

“Ah aku ada acara gitu minggu besok.”

“Yaaah…” Jawab kami semua serentak.

“Aku nebeng ampe jalan gede ya. Tempat keluargaku di Mangga Dua. Lewat gak?”

“Oiya lewat kok mbak.” Kata pak supir.
Di sela-sela tarikan nafas, meredakan adrenalin yang meninggi karena lari-larian tadi.

“Skripsinya gimana, Shof?” Tya tiba-tiba bertanya mengubah suasana.

Tengtoooong… Napas makin berasa berat saja ditodong pertanyaan semacam itu.

“Aku mau ketemu tuh biar bisa nanya ini langsung ke kamu.” Dia serius melanjutkan. Tapi bagiku ini tetap seperti adegan telenovela. Agak alay, sweet, mengharukan bercampur baur.

“Ya ampun Ty! Iyaa dikerjain koook. Bulan ini insyaAllah validasi. Kamu drama banget sih.” Kataku sok cool sembari menyembunyikan rasa haru.
Siapa yang gak terharu. Temanmu rela membelah kejamnya ibu kota dari Sentul menuju Kota Tua hanya buat ketemu kamu dan nanyain skripsi?!

Sungguh parah lelaki yang pernah menyia-nyiakan dan mematahkan hati temanku yang sangat baik ini.
“Nih Oreo biar semangat skripsinya.” Tya mengeluarkan Oreo dari dalam tasnya.

“Ya ampuuun. Makasih ya Tyyyy..” Saya bingung, entah bagaimana lagi membalas kebaikan dan perjuangan Tya.

“Yaudah nih! Floridina. Sebagai reward buat kamu karena sudah berjuang buat nemuin aku.” Saya mengambil minuman jeruk di kursi sebelah, satu-satunya benda yang memungkinkan untuk saya berikan kepada Tya. Karena dia sudah sweet, saya tak boleh kalah sweet. Pikir saya. Lagian dia juga tidak tahu, Floridina itu juga gratisan dari adek tingkat yang tadi ulang tahun di atas bis. Hahaha.. Semesta sungguh baik pada saya di hari itu.

Tak lama kemudian Mangga Dua sudah di depan mata. Tya berpamitan. Entah kapan lagi kami akan bertemu.

“Terima kasih atas Oreo penyemangatnya ya Ty!

Nanti pasti bakal kumakan kok. Saat lagi penat-penatnya menghadapi skripsi. Saat lagi butuh semangat dan mungkin saat lagi gak ada duit. Hehe

Sukses buat kamu yang sedang berjuang menghadapi kerasnya ibukota. Semoga bisa segera menemukan lelaki yang bisa menemanimu, menculikmu, menyelamatkanmu dari jahat dan membosankannya rutinitas, meski hanya dengan sekadar naik motor keliling kota atau makan sate dan kare terkenal di seantero kota.”
Dari konco tipismu.

Ahmad Shofwan Muis

Saya Bingung Mau Kasih Judul Apa

Subuh ini ada yang aneh. Bukan tentang saya yang gak tidur semalaman karena minum kopi susu. Bukan tentang itu.

Subuh ini saya berjalan menuju kamar mandi dan di salah satu pintu kamar yang sedikit terbuka saya mendapati seorang teman yang sedang menikmati berdo’a, menikmati lezatnya meminta pada Allah. Baru saja saya berniat ingin bercanda menyahutinya “aamiin,” tapi langsung saya urungkan niatan itu. Oh tidak! Dia menitikkan air mata!

Bertahun-tahun saya kenal, dia adalah orang yang periang. Belum pernah sama sekali saya melihat raut wajah sedih di wajahnya (meski kami sama-sama dirundung pedihnya perjuangan skripsi). Baru kali ini saya melihat dia, seorang lelaki yang penuh dengan lengkung senyum di wajahnya yang bulat, menumpahkan air mata dan di atas sajadah.

Kagum sekaligus iri terbesit di hati. Rasanya diri yang banyak alpa ini menjalankan ibadah hanya sebagai rutinitas dengan tanpa isi dan penghayatan. Ingin jua rasanya menikmati komunikasi dengan-Nya. Astaghfirullaaah. ampuni hamba ya Allah.

Hingga tulisan ini diturunkan, dia masih duduk di atas sajadahnya. Saya memperhatikan dia, tapi dia tetap fokus dengan tangannya yang menengadah mengetuk pintu langit. Dia tidak tahu saya lagi nulis tentang dia. Tapi jika mungkin dia membaca tulisan ini, pesan saya adalah “Tenang, lelaki menangis itu bukan karena dia lemah. Tapi mungkin dia sudah terlalu lama berusaha untuk menjadi kuat. Terkadang its good to be not good.”

Oiya terakhir dia mengatakan ibunya sakit. Ya Allah tolong ijabah do’a temanku ini. Tolong buat orangtuanya kembali sembuh. Anda yang membaca tulisan ini mungkin bisa ikut membantu mengaminkan. Ya Allah, kabulkanlah apa yang dia minta. Skripsi, hidup yang lancar, dagangannya laku keras. Apapun. Kecuali jika dia meminta adekku pada-Mu ya Allah. Jangan dikabulkan ya. Hehe
Kepada temanku yang masih di atas sajadah. Mohon maaf kutuliskan kisahmu tanpa izin. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang lain, terutama diri saya sendiri. Bahwasanya sebesar apapun masalah kita tak usah khawatir, karena kita punya Allah yang maha besar.
Dari temanmu yang sudah di atas kasur, dan sedang merenung.

Ayah, Kenapa Jatuh Cinta itu Menyiksa?

Kenapa jatuh cinta begitu menyiksa dan mengikat, ayah?  Tak ada kabar darinya saja hati terasa gelisah. Melihatnya berfoto bersama lelaki lain mataku menjadi panas dan hatiku gusar. Ingin rasanya semua tentang dia hanya untukku.

Apa begitu juga perasaan ayah pada mama dahulu?

Bedanya, kali ini aku belum punya hak untuk memilikinya.

Apa karena ini lah cinta kepada Tuhan jauh lebih indah daripada cinta pada manusia? Rasa-rasanya, semakin aku cinta, semakin dia jauh.

Cintaku hanya berani kuungkapkan melalui do’a.

Aku memintanya hanya di depan Tuhan, belum berani aku memintanya di depan kedua orangtuanya.

Aku takut aku belum mampu. Aku takut cintaku justru membuatnya hidup susah.

Kalau boleh tahu bagaimana cara ayah dahulu memenangkan hati mama? Bagaimana cara ayah menetapkan hati dan memampukan diri untuk mama? Bagaimana cara ayah meminta mama kepada kakek dan nenek?

Kali ini aku sungguh butuh jawaban. Jadi jangan menjadi menyebalkan seperti biasa dengan jawaban “Nanti ayah jawab melalui do’a di atas sajadah” ya yah. Kalau cinta semenyiksa ini, rasanya aku rela mengerjakan skripsi hingga berkali-kali, yah. Puasa sudah, berusaha menahan diri pun coba kulakukan. Namun rongga dadaku serasa selalu sesak tentang dia. Aku takut, cintaku pada makhluk mengalahkan cintaku pada Tuhan.

Ayah tolong aku.


Di pojok ruangan bersama segelas teh madu hangat aku membaca surat dari anakku. Rupanya anakku sudah besar dan sudah mulai memikirkan untuk menyempurnakan agamanya. Namun sungguh anakku kali ini tidak sedang berada di kasus yang ringan. Aku tahu betul bahwa sekuat apapun lelaki, dia akan menjadi inferior jika dihadapkan pada permasalahan hati. Anakku benar-benar sedang dalam masalah. Sangat jarang ia mengirim surat seperti ini. Macam orang pacaran jaman dulu saja, pikirku.

Kuambil telepon genggamku, kubalas pesannya melalui whatsapp.