Oreo Penyemangat

“Shof mau ke Jakarta? Ayo ketemuan!” Bunyi pesan whatsapp di ponsel.

Teman baik mungkin tak selalu ada, namun akan selalu berusaha hadir di saat tersedia kesempatan.
Beberapa minggu yang lalu saya menuju Ibukota, tempat beberapa teman dekat yang sudah lulus mengadu nasib. Sayang karena kunjungan yang sangat mendadak ini, hanya satu yang bisa menyempatkan bertemu. Kita janjian di kota tua. 

Senja di kota tua hari itu sungguh indah, namun tak cukup bisa menentramkan hati di sore itu. Pikirku masih kepada dia yang jam 6 petang ini masih di jalan. Waktu berjalan terasa sangat lambat ketika menunggu. 

Setengah 7, pertanda saya sudah harus menuju bis untuk perjalanan kembali ke Solo. Kalau kata jargon pak JK “Lebih cepat lebih baik,” agar kita bisa menghindari kemacetan Jakarta. Dengan kecewa kukabari dia kalau kayaknya kita gak jadi ketemu. Bisnya sudah mau berangkat.
“Bisnya suruh jangan berangkat dulu aja laah. Tungguin aku.” Kata dia seenak jidat. Dikira bisnya punya saya.
Sudah hampir jam 7. Bis ternyata belum berangkat karena masih ada penumpang yang harus ke toilet.
“Okey, ini kesempatan,” pikirku.
Tingtung!

Ada share location di pesan whatsapp saya. Posisi Tya rupanya. Dia sudah di kota tua.
“Ty. Lihat ada indomaret gak? Sebelahnya ada Cafe Batavia, sebelahnya lagi ada jalan kecil, kamu ke jalan situ. Dari situ jalan aja terus menuju tempat parkiran bis kota tua. Agak jauh mungkin 1 KM.”

Dia tak kunjung. membalas. Tidak heran. Pasti dia sedang pusing. Hal wajar karena memang kebanyakan wanita tak bisa membaca peta, termasuk Dora the Explorer dan terlebih seorang Maria Stephani Dwitya.

“Kamu udah di mana? Kalau udah nyeberang jalan bilang ya. Ntar kita ketemu di situ, yang ada haltenya.”
Saya berlari menuju titik tempat janjian. Saya pilih lokasi tersebut karena penyeberangan dekat halte bis itu adalah titik tengah posisi saya dan dia. Jadi win-win solution, supaya gak kejauhan.

“Ty di mana?” Dari jauh saya melihat wanita berambut panjang sedang mengangkat telepon genggamnya.

Ini adalah perjumpaan paling drama di tahun 2016. Jika ini perjumpaan dua sejoli mungkin akan menjadi perjumpaan yang sweet sekaligus penuh ke-alay-an dan perjuangan. Bayangkan ada yang masih menyempatkan bertemu di sela waktu yang sangat sempit.

“Ayo Shof foto dulu!”
“Pakai hapemu aja Ty. Itu latarnya halte bis aja gak papa. Buru ntar ketinggalan bis”
Cekrek cekrek

Yah! Kok muka kita hijau-hijau gini? Yaiyalaaah fotonya depan lampu lalu lintas.

“Ayo Ty. Mau ketemu anak-anak gak di bis? Ada Bunga ama Teten.”

“Yuk, Shof.” Berdua kami kemudian berlari seperti di FTV. Menuju bis.
Pedagang-pedagang di lapak jualan menangkap keresahan kami.

“Santai aja baaang. Bisnya gak bakal ninggal kok.”
Hap!!! Kami sudah di bis.

*Foto berempat*

“Ty ikut aja ampe Solo. Kan weekend.”

“Iya kak Tya ikut aja ama kita. Masih ada kursi kosong kok, pak Arif udah balik duluan tadi.”

“Ah aku ada acara gitu minggu besok.”

“Yaaah…” Jawab kami semua serentak.

“Aku nebeng ampe jalan gede ya. Tempat keluargaku di Mangga Dua. Lewat gak?”

“Oiya lewat kok mbak.” Kata pak supir.
Di sela-sela tarikan nafas, meredakan adrenalin yang meninggi karena lari-larian tadi.

“Skripsinya gimana, Shof?” Tya tiba-tiba bertanya mengubah suasana.

Tengtoooong… Napas makin berasa berat saja ditodong pertanyaan semacam itu.

“Aku mau ketemu tuh biar bisa nanya ini langsung ke kamu.” Dia serius melanjutkan. Tapi bagiku ini tetap seperti adegan telenovela. Agak alay, sweet, mengharukan bercampur baur.

“Ya ampun Ty! Iyaa dikerjain koook. Bulan ini insyaAllah validasi. Kamu drama banget sih.” Kataku sok cool sembari menyembunyikan rasa haru.
Siapa yang gak terharu. Temanmu rela membelah kejamnya ibu kota dari Sentul menuju Kota Tua hanya buat ketemu kamu dan nanyain skripsi?!

Sungguh parah lelaki yang pernah menyia-nyiakan dan mematahkan hati temanku yang sangat baik ini.
“Nih Oreo biar semangat skripsinya.” Tya mengeluarkan Oreo dari dalam tasnya.

“Ya ampuuun. Makasih ya Tyyyy..” Saya bingung, entah bagaimana lagi membalas kebaikan dan perjuangan Tya.

“Yaudah nih! Floridina. Sebagai reward buat kamu karena sudah berjuang buat nemuin aku.” Saya mengambil minuman jeruk di kursi sebelah, satu-satunya benda yang memungkinkan untuk saya berikan kepada Tya. Karena dia sudah sweet, saya tak boleh kalah sweet. Pikir saya. Lagian dia juga tidak tahu, Floridina itu juga gratisan dari adek tingkat yang tadi ulang tahun di atas bis. Hahaha.. Semesta sungguh baik pada saya di hari itu.

Tak lama kemudian Mangga Dua sudah di depan mata. Tya berpamitan. Entah kapan lagi kami akan bertemu.

“Terima kasih atas Oreo penyemangatnya ya Ty!

Nanti pasti bakal kumakan kok. Saat lagi penat-penatnya menghadapi skripsi. Saat lagi butuh semangat dan mungkin saat lagi gak ada duit. Hehe

Sukses buat kamu yang sedang berjuang menghadapi kerasnya ibukota. Semoga bisa segera menemukan lelaki yang bisa menemanimu, menculikmu, menyelamatkanmu dari jahat dan membosankannya rutinitas, meski hanya dengan sekadar naik motor keliling kota atau makan sate dan kare terkenal di seantero kota.”
Dari konco tipismu.

Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s