​Kisah tentang Tsubasa dan Hyuga Melewati Garis

Waktu kecil dulu aku suka pelihara semut. Kukasih nama Tsubasa dan Hyuga. Harapanku biar mereka bisa sahabatan. Gak kayak di kartun yang bersaing di atas lapangan hijau. Mereka kutaruh di toples kecil bekas selai coklat merk terkenal. Apa kira-kira? Kamu gak tahu? Coba deh tebak. Nggak tahu juga? Oke berarti dia gak terkenal kalau terlintas di pikiranmu saja nggak. Kemudian mereka membuat lorong-lorong dan akan sangat keren jika dilihat dari dinding toples.

Suatu hari aku ingin menghadirkan suasana berbeda untuk mereka. Kuajak mereka berekreasi. Kukeluarkan mereka dari toples. Kutaroh di atas kertas putih. Tampak mereka begitu bahagia. Tsubasa lari ke kertas bagian atas. Hyuga mengikuti dari belakang. Waktu itu aku lagi megang pulpen, rencananya mau mencatat pertumbuhan Tsubasa dan Hyuga. Eh nggak deng. Lupa. Pokoknya lagi megang pulpen. Dan gak tahu kenapa tanpa kepikiran apa-apa, aku membuat garis di depan arah larinya Tsubasa. Begitu dia sampai di garis itu, dia berhenti. Celingak-celinguk. Hyuga yang berhasil menyusul, juga akhirnya berhenti. Celingak-celinguk juga. Mereka berdua akhirnya mengubah arah lari. Kubuat garis, mereka berhenti lagi, terus ubah arah lari lagi. Seakan gak mau ngelewatin garis dari pulpen. Sampai akhirnya aku kepikiran, mau ngerjain mereka. Aku bikin lingkaran yang mengelilingi mereka.

“Hayo lhoo! Mau lari ke mana!” Sambil ketawa-tawa aku lihat mereka berdua kembali celingak-celinguk. Tidak bisa mengubah arah lari. Soalnya ini lingkaran, sebuah garis yang tak berujung.

Kenapa ya mereka berhenti? Padahal kan itu cuma garis. Tapi beberapa lama, setelah keliling-keliling, akhirnya Hyuga memberanikan diri melewati garis lingkaran. Kayaknya Hyuga juga bingung, begitu dia keluar dari lingkaran, dia balik lagi ngelihat lingkarannya. Tsubasa yang masih dalam lingkaran kayaknya terkejut. “Oh bisa ya kita keluar.” Mungkin dia berkata begitu, seandainya aku mengerti bahasa semut. Kemudian dia menyusul Hyuga. Dan kembali mereka berlarian. Oke, kupikir cukup rekreasi hari ini. Aku mengambil dua butir gula pasir. Kuhadiahkan masing-masing satu buat mereka, sebelum kukembalikan mereka ke rumah..
Nah temen-temen. Sadar gak sih? Kita semua di kehidupan sehari-hari ternyata gak beda jauh ama Tsubasa dan Hyuga, semut peliharaanku waktu kecil. Kita seringkali tak berani melewati suatu garis yang kita anggap adalah penghalang. Padahal, ternyata bukan. Itu cuma garis yang dibuat dari pulpen. Itu hanya garis pembeda yang tipis antara berani dan takut, antara mau atau enggan. Kita terlalu fokus terus menerus memandang suatu garis tanpa berani  mencoba melewati garis dan menanggung konsekuensinya.
Mari beranikan diri melewati garis penghalang di depan kita. Dengan melewatinya, bisa saja ada kemungkinan kita gagal. Tapi dengan tidak berani melewati, sama aja kita gak akan menemui sukses. Lantas, gak begitu beda jauh bukan? Kita tak kehilangan apa-apa dan jauh lebih merugikan dibanding kehilangan waktu karena tidak berani mencoba.
Orang hanya akan mengingat mereka-mereka yang berani. Hari itu aku mengingat Hyuga, karena dia berani. Tsubasa sih hanya ikut-ikutan karena ngelihat yang lain udah berhasil lebih dulu.
Pertanyaannya, mau jadi seperti Hyuga, Tsubasa atau tetap menjadi diri kita yang penakut terlalu lama menunggu dan tak berani melintas garis?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s