​Keluarga Demokrasi

“Ma, Adi berangkat kuliah dulu ya.”

“Iya. Hati-hati. Inget, jangan ikutan turun aksi! Fokus kuliah aja kamu.” Kata Mama dari dalam dapur kepada Adi yang siap mencium tangan. Mama seolah tahu apa yang ada di pikiran Adi. Tentu saja tahu, Mama juga pernah muda. Dan di dalam diri Adi, mengalir darahnya.

Oiya, asal kamu tahu. Mamanya Adi dulu juga sering turun aksi. Cuma karena satu dan lain hal, dia ingin hal yang berbeda untuk anaknya. Kuharap kamu bisa mengerti perasaan seorang Ibu kepada anaknya.

“Tapi, Ma… Negara kita mengalami reformasi 40 tahun yang lalu kan karena turun aksi juga?”

“Udah, gak ada tapi tapian. Pokoknya kamu dengerin apa kata Mama.”

Adi tampak kecewa.

“Yaudah, kamu berangkat deh. Hati-hati di jalan ya.”

“Oke, Ma.” Adi tetap mempertahankan senyum di wajahnya. Tak ingin Mama tahu bahwa hatinya kecewa.

. . . . . . . . . . . . . .

Adi keluar dari pintu sudah bersiap naik ke atas motornya.

“Ssst… Ssssst!!!”

Adi celingak-celinguk mencari sumber suara. Oh ternyata Ayah.

“Sini…” Kata Ayah dengan agak berbisik, menjaga suaranya tak didengar oleh orang selain Adi.

“Kenapa, Yah?” Adi mendekat ke arah Ayah yang berdiri di balik daun pintu. Takut ketahuan sama Mama kayaknya.

“Kamu kenapa mau ikut aksi?”

“Nnggg.. mau menyuarakan aspirasi Yah. Soalnya gak semua orang bisa menyuarakan langsung, Yah. Jangankan bersuara, mikirin makan aja masih susah. Gitu, Yah.” Jawab Adi dengan agak ragu, ditandai suara yang makin lirih di penghujung kalimat.

“Hhhmmmm…” Wajah serius Ayah kini berubah menjadi senyum. Dia seakan menguji Adi, dan senyum itu adalah pertanda kelulusan.

“Gak papa kalau kamu mau ikut turun aksi. Ini buat kamu, punya Ayah waktu muda dulu.” Ayah menyodorkan ikat kepala merah putih yang dikeluarkan dari saku jaketnya.

Adi tersenyum.

“Makasih, Yah.”

“Pastikan nanti langsung pulang ya. Kita makan malam bareng di rumah.” Ayah menepuk pundak Adi dan mengepalkan tinjunya ke udara sesaat setelahnya.

“Oh iya, hati-hati ama provokator. Jangan mau diprovokasi. Biasanya mereka muncul waktu aksi udah mau selesai. Biar membelokkan isi aksi.”

“Siap laksanakan, kumendan!” Adi menghentakkan kaki ke tanah, menegapkan badan dan memberi hormat ke arah Ayah seolah dia prajurit yang sedang menerima perintah komando dari atasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s