Kaya itu Ada di Mental, Tak Melulu Letaknya di Dompet

Hari di saat saya deg-degan menghadapi validasi proposal penelitian, saya mendapat pelajaran berharga. Bukan di dalam ruangan validasi. Tapi sejam sebelum validasi dimulai.

Pelajaran itu datang dari nenek penjual pisang di depan masjid seberang kampus Psikologi UNS.

Beliau adalah mbah Sukiyem. “Baru umur 70 tahun,” katanya waktu saya menanyakan.

Sudah ditinggal suami sejak 10 tahun yang lalu. Di usia senjanya beliau masih berani berjuang menantang hidup. Tiap subuh mengayuh sepeda tuanya dan membonceng pisang dari rumah di area timur bandara sana menuju pasar Ledoksari untuk jualan pisang. Siangnya pindah berjualan di depan masjid depan kampus Psikologi UNS.

Hari kemarin, seperti biasanya beliau masih berjualan di tempat biasa. Saya yang sudah selesai sholat sedang memakai sepatu. Mencoba menguatkan hati untuk menghadapi validasi. Dari jauh, saya melihat ada bapak-bapak tua menggunakan jaket lusuh dengan sarung di pinggang masuk ke area masjid. Kupikir bapak tersebut mau sholat. Ternyata tidak, bapak itu rupanya tidak melepas alas kaki. Namun langsung menuju ke arah saya, menengadahkan tangannya ke arah saya dan meminta uang dengan wajah yang lemas. Hati saya yang juga lemah otomatis membuat tangan saya merogoh saku celana. Mencari adakah yang bisa saya berikan kepada bapak tersebut. Ternyata ada. Bapak itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih dan do’a dalam berbahasa Jawa. Saya pun tersenyum. (Jika kamu tak setuju dengan tindakan barusan yaitu memberi uang kepada pengemis dengan alasan tidak mendidik, saya tak akan mendebat. Itu pilihan kamu.)

Tapi bukan, bukan kisah saya yang ingin saya ceritakan. Melainkan kejadian setelahnya. Anggap tulisan sebelum ini hanyalah sebagai pengantar. Kejadian setelahnya lah yang menjadikan perasaan saya campur aduk!

Setelah ke saya, bapak tua tadi langsung berjalan ke arah mbah Sukiyem dan juga menengadahkan tangan meminta uang.

Tunggu sebentar.

Apa?! Bapak-bapak ini tak tahu diri sekali! Kepada mbah-mbah yang jualannya tak seberapa saja dia berani meminta?! Hormat saya kepada bapak tersebut seolah runtuh seketika. Dada saya bergemuruh dengan apa yang dilakukannya. Tapi tentu saya hanya bisa diam tak bisa melakukan apa-apa. Maafkan, saya yang ada di dalam pikiran sangat jahat pada hari itu. Dengan tega kukatakan “kurang ajar!” pada bapak-bapak yang sudah tua. Iya, meski hanya dalam hati.

Di tengah gemesnya saya, gak berapa lama kemudian mbah Sukiyem merogoh kantong plastik di depannya. Mengambil uang dan memberikan kepada bapak tadi. MasyaAllaaaaaaaaahhhhhh… Mata saya seolah mendapat kiriman awan yang banyak, entah dari mana asalnya yang membuatnya segera ingin menurunkan hujan.

Kepada saya yang sudah tidak adil dan bahkan mengumpat sejak alam pikir, mbah Sukiyem memberikan pelajaran berharga.
Saya sempat mengabadikan momen terindah di bumi tersebut dengan cepat-cepat merogoh kamera di saku celana.

Kalau orang-orang menyebut tujuh keajaiban dunia, hari kemarin adalah hari di mana saya melihat keajaiban dunia yang kedelapan. Seorang nenek yang sudah lanjut usia, yang hidupnya tidak berkecukupan saja masih bisa peduli dengan orang lain. Masih bisa menyisihkan sedikit dari sedikit isi dompetnya untuk orang yang membutuhkan.
Sekali lagi. Kaya itu datang dari hati dan mental, tak melulu soal dompet.

Terima kasih mbah Sukiyem. Mbah mengajarkan satu hal berharga ke saya. Dan semoga juga melalui tulisan ini bisa menjadi pelajaran bagi yang membaca. Dan untuk kamu yang membaca, sesekali sempatkan membeli pisang dari beliau ya. Penjual pisang yang paling kaya sejagad yang pernah kukenal. Yang tetap teguh berjuang mempertahankan hidupnya dengan berusaha dan tak meminta-minta.

Masih dengan lengkung senyum di wajah mengenang kejadian kemarin

Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

5 thoughts on “Kaya itu Ada di Mental, Tak Melulu Letaknya di Dompet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s