Dosa atas Nama Cinta

​”Islam tak mengharamkan jatuh cinta. Islam hanya melarang tindakan negatif atas nama cinta.”

Satu dosa yang pernah saya lakukan atas nama cinta dan masih teringat sampai sekarang. Kala itu memanjat tribun stadion Mattoanging demi cinta pada PSM. Masuk stadion tanpa tiket, cukup membayar seribu rupiah dan saya ditarik dari atas tribun menggunakan sarung yang disambung-sambung menjadi seperti tali. Sebuah jalan penuntasan cinta yang sangat murah bagi seorang anak SMP.

Masih ingat betul. Pertandingan itu adalah pertandingan perdana striker asing PSM, Saibou Badarou. Tapi sayang penampilannya melempem. Pertandingan berakhir seri dan dia tidak membuat satu gol pun.

Selesai pertandingan, dosanya langsung dibayar cash and carry oleh pemilik alam semesta. Duit yang harusnya bisa buat naik angkot balik, entah kenapa dibeliin burger di depan stadion. Dan nggak tahu kalau udah ditinggal balik ama temen yang bawa motor. Dihukum langsung dengan jalan kaki dari Mattoanging sampai lapangan Karebosi (alun-alun kota Makassar) dan baru sampai di rumah jam 1 malam.

Gambar di atas hanya ilustrasi. Dan memberi tahu bahwa di bagian tribun itu lah saya melakukan dosa.

View Stadion Mattoanging (sekarang Stadion Andi Matalatta) dari tribun tertutup VIP Utara.

Sekarang saya sadar. Bahwa cinta itu tak pernah salah. Jalan penuntasannya lah yang kadang manusia luput dalam memilih.

Bagaimana denganmu? Pernah melakukan sebuah tindakan negatif atas nama cinta? Semoga tidak. Cukup saya yang pernah melakukan kesalahan itu. Kamu nggak usah.

Don’t Forget Tsunami: Aceh 12 Tahun Tsunami

​”Manusia selalu punya ikatan batin dengan tempat-tempat yang pernah dia kunjungi.” Setidaknya ini menurutku. Dan Aceh menjadi salah satu tempat yang selalu terhubung dengan batinku.

Masih tersisa saksi-saksi bisu kekuatan hati rakyat Aceh menghadapi ujian Allah bernama Tsunami. Aku selalu percaya, orang-orang Aceh adalah orang-orang yang sangat hebat. Allah tak akan pernah memberikan ujian kepada hamba melainkan sesuai dengan batas kemampuan hamba tersebut. Dan benar. Aceh kuat!

Jangan ditanya keadaan hatiku mengunjungi beberapa tempat di Aceh. Remuk redam rasanya. Aku menginjakkan kaki di bumi Rencong 10 tahun setelah Tsunami ada di tempat tersebut. Tapi auranya berasa tak bisa hilang. Bahkan hingga 12 tahun ia sudah berlalu dan kutulis melalui tulisan ini.

Ini adalah beberapa foto yang pernah aku ambil saat di Aceh.

Masjid Baiturrahman Aceh

Pemakaman massal di area bekas RS. Meuraxa. Di sini terbaring 14.000 saudara kita.

Salah satu rumah yang tidak direnovasi lagi. Kalau tidak salah ingat, sekeluarga Polisi penghuni rumah semuanya meninggal bersama 120.000 jiwa lainnya saat Tsunami menerjang.

Kapal Lampulo. Kapal nelayan yang terbawa ke daratan saat Tsunami. Menyelamatkan sekitar 60 jiwa. Saat air surut, kapalnya berada di atas rumah. Dan kata orang yang di atas kapal, sempat melihat buaya raksasa bersamaan dengan surutnya air.

Kapal PLTD Apung milik PLTN yang beratnya berton-ton ikut terbawa air hingga ke daratan.

Kalau kamu pernah lihat foto tanah Lhok Nga pasca Tsunami dan satu-satunya bangunan yang berdiri adalah masjid, inilah masjid tersebut.

Salah satu bagian di dalamnya sengaja tak direnovasi sebagai bukti bisu Tsunami pernah ada di sini. Salah satu tulisan di bagian ruangan inilah yang menjadi judul tulisanku. “Don’t forget tsunami”

Museum Tsunami rancangan arsitek pak Ridwan Kamil. Bagian atasnya bisa digunakan sebagai tempat menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu ada Tsunami. Jangan tanya saya, apa saja di dalamnya. Aku hanya memasuki satu ruangan diorama dengan diiringi lagu daerah Aceh berjudul Dodo daidi. Setelahnya langsung keluar karena dada sesak. Gak kuaaaat.

Nama saudara-saudari kita yang pergi bersama Tsunami Aceh.

Bangunan perlindungan dari Tsunami. Di Aceh setelah Tsunami, banyak dibangun bangunan-bangunan ini. Bangunan yang mirip dengan yang banyak di Jepang.

Aceh kuat!

Yang terkini, gempa kembali mengguncang tanahnya. Semoga Aceh kuat, karena aku tahu Aceh selalu kuat. Sudah teruji dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Bahkan penjajah tak bisa mencengkerammu. Untuk teman-teman yang punya sedikit kelapangan rezeki, boleh mampir ke m.kitabisa.com/acehkuat#

Sebelum kakiku kembali menginjakkan tanah Rencong, kuharap do’aku sudah sampai ke sana terlebih dahulu. Aceh loen sayang.

Dari anak Bugis yang pernah menapakkan jejak di bumimu.

Ahmad Shofwan Muis

Surat Terbuka untuk Lampu Lalu Lintas Ngoresan

Hai lampu lalu lintas di pertigaan Ngoresan, yang selalu setia berdiri di area belakang kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kenalkan saya Ahmad Shofwan Muis, seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Psikologi yang kampusnya di Mesen, bukan di kampus pusat Kentingan. Mungkin kamu sudah sering melihatku, tapi kamu belum mengenalku.

Sebenarnya hampir tiap hari kita bertemu. Aku lewat dengan motor Honda CB 100 tahun 1976 dan kamu tetap berdiri melaksanakan tugasmu. Apakah kamu sudah mulai mengenaliku? Iya, aku yang berhelm putih dan kadang dipisuhin orang saat berhenti karena mengikuti aba-abamu. Tapi berhubung aku bukan pribadi yang begitu baik, mereka kupisuhin balik. Haha. Kurasa jika kamu punya tangan, kamu akan mengajakku untuk ber-high-five buat kalimat terakhirku tadi.

Ada banyak masalah bangsa yang jauh lebih besar dibanding permasalahanmu. Tapi tulisan ini kubuat karena keresahanku bertahun-tahun. Aku resah kenapa begitu banyak manusia yang mengabaikanmu? Orang-orang tidak menganggapmu ada. Tidak seperti lampu-lampu lalu lintas yabg lainnya. Jika pada perkara yang kecil saja manusia abai, lantas apa jaminan yang membuat manusia bisa peduli pada perkara yang lebih besar?

Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Banyak orang yang tak menghargaimu, tapi kamu tetap setia menjalankan tugas.
Aku terkadang berpikir

Apakah…

1. Mahasiswa UNS itu buta warna?

Mahasiswa UNS yang berlalu lalang di sekitaran belakang kampus dan melewati lampu lalu lintas Ngoresan aku yakin tak ada yang buta warna. Kami semua sebelum masuk melewati tes kesehatan dan salah satunya adalah tes buta warna. Okey, anggap ada yang buta warna. Mohon maaf. Pastilah juga bisa mengetahui letak lampu-lampu yang ada di tubuhmu wahai Lampu Lalu Lintas Ngoresan.

2. Karena tidak ada pos Polisi?

Sudah menjadi hal lumrah bagi manusia di bumi Indonesia, mereka taat jika ada yang mengawasi. Jika ada pos Polisi, taatnya minta ampun. Tapi kalau gak ada, bisa seenaknya sendiri.

3. Membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar?

Apakah karena manusia Kentingan terlalu sering membenarkan yang biasa dan bukan membiasakan yang benar? Bagi orang baru di sini, mereka akan menaati aba-aba lampumu. Tapi ketika mereka melihat banyak orang lain yang dengan entengnya jalan bahkan di saat lampu merah, akhirnya mereka beranggapan bahwa hal tersebut hal yang biasa. Dan ikut membenarkan.

Dan masih banyak apakah-apakah yang lainnya.

Kenapa kamu tidak berhenti saja dari tugasmu? Menikmati waktu dengan beristirahat di rumah atau pun mungkin berpindah tugas ke tempat orang-orang bisa lebih menghargaimu? Biarkan saja manusia Kentingan mengatur diri mereka sendiri di pertigaan belakang kampus sana.

Tindakan yang diniatkan untuk kebaikan bahkan sering disalahartikan oleh manusia sebagai sesuatu yang menyebalkan. Sebagai sesuatu yang memperlambat urusan mereka.

Tapi kemudian aku setuju kepadamu. Ketika orang lain tidak peduli dengan kebaikanmu, itu adalah saat yang tepat untuk tidak peduli dengan ketidakpedulian mereka. Tetap lanjutkan kebaikanmu.

Terima kasih sudah mengajarkan bahwa tak dipedulikan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang.

Terima kasih sudah mengajarkan bahwa kesalahpahaman orang lain bukan alasan untuk berhenti melakukan tindakan yang diniatkan untuk kebaikan. Karena masing-masing kita diciptakan untuk memenuhi tujuan hidup kita, dan tujuannya bukanlah membuat semua orang senang.

Salam hangat. Bersama hujan bulan Desember.

Ahmad Shofwan Muis