Surat Terbuka untuk Lampu Lalu Lintas Ngoresan

Hai lampu lalu lintas di pertigaan Ngoresan, yang selalu setia berdiri di area belakang kampus Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kenalkan saya Ahmad Shofwan Muis, seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Psikologi yang kampusnya di Mesen, bukan di kampus pusat Kentingan. Mungkin kamu sudah sering melihatku, tapi kamu belum mengenalku.

Sebenarnya hampir tiap hari kita bertemu. Aku lewat dengan motor Honda CB 100 tahun 1976 dan kamu tetap berdiri melaksanakan tugasmu. Apakah kamu sudah mulai mengenaliku? Iya, aku yang berhelm putih dan kadang dipisuhin orang saat berhenti karena mengikuti aba-abamu. Tapi berhubung aku bukan pribadi yang begitu baik, mereka kupisuhin balik. Haha. Kurasa jika kamu punya tangan, kamu akan mengajakku untuk ber-high-five buat kalimat terakhirku tadi.

Ada banyak masalah bangsa yang jauh lebih besar dibanding permasalahanmu. Tapi tulisan ini kubuat karena keresahanku bertahun-tahun. Aku resah kenapa begitu banyak manusia yang mengabaikanmu? Orang-orang tidak menganggapmu ada. Tidak seperti lampu-lampu lalu lintas yabg lainnya. Jika pada perkara yang kecil saja manusia abai, lantas apa jaminan yang membuat manusia bisa peduli pada perkara yang lebih besar?

Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Banyak orang yang tak menghargaimu, tapi kamu tetap setia menjalankan tugas.
Aku terkadang berpikir

Apakah…

1. Mahasiswa UNS itu buta warna?

Mahasiswa UNS yang berlalu lalang di sekitaran belakang kampus dan melewati lampu lalu lintas Ngoresan aku yakin tak ada yang buta warna. Kami semua sebelum masuk melewati tes kesehatan dan salah satunya adalah tes buta warna. Okey, anggap ada yang buta warna. Mohon maaf. Pastilah juga bisa mengetahui letak lampu-lampu yang ada di tubuhmu wahai Lampu Lalu Lintas Ngoresan.

2. Karena tidak ada pos Polisi?

Sudah menjadi hal lumrah bagi manusia di bumi Indonesia, mereka taat jika ada yang mengawasi. Jika ada pos Polisi, taatnya minta ampun. Tapi kalau gak ada, bisa seenaknya sendiri.

3. Membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar?

Apakah karena manusia Kentingan terlalu sering membenarkan yang biasa dan bukan membiasakan yang benar? Bagi orang baru di sini, mereka akan menaati aba-aba lampumu. Tapi ketika mereka melihat banyak orang lain yang dengan entengnya jalan bahkan di saat lampu merah, akhirnya mereka beranggapan bahwa hal tersebut hal yang biasa. Dan ikut membenarkan.

Dan masih banyak apakah-apakah yang lainnya.

Kenapa kamu tidak berhenti saja dari tugasmu? Menikmati waktu dengan beristirahat di rumah atau pun mungkin berpindah tugas ke tempat orang-orang bisa lebih menghargaimu? Biarkan saja manusia Kentingan mengatur diri mereka sendiri di pertigaan belakang kampus sana.

Tindakan yang diniatkan untuk kebaikan bahkan sering disalahartikan oleh manusia sebagai sesuatu yang menyebalkan. Sebagai sesuatu yang memperlambat urusan mereka.

Tapi kemudian aku setuju kepadamu. Ketika orang lain tidak peduli dengan kebaikanmu, itu adalah saat yang tepat untuk tidak peduli dengan ketidakpedulian mereka. Tetap lanjutkan kebaikanmu.

Terima kasih sudah mengajarkan bahwa tak dipedulikan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang.

Terima kasih sudah mengajarkan bahwa kesalahpahaman orang lain bukan alasan untuk berhenti melakukan tindakan yang diniatkan untuk kebaikan. Karena masing-masing kita diciptakan untuk memenuhi tujuan hidup kita, dan tujuannya bukanlah membuat semua orang senang.

Salam hangat. Bersama hujan bulan Desember.

Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

2 thoughts on “Surat Terbuka untuk Lampu Lalu Lintas Ngoresan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s