Don’t Forget Tsunami: Aceh 12 Tahun Tsunami

​”Manusia selalu punya ikatan batin dengan tempat-tempat yang pernah dia kunjungi.” Setidaknya ini menurutku. Dan Aceh menjadi salah satu tempat yang selalu terhubung dengan batinku.

Masih tersisa saksi-saksi bisu kekuatan hati rakyat Aceh menghadapi ujian Allah bernama Tsunami. Aku selalu percaya, orang-orang Aceh adalah orang-orang yang sangat hebat. Allah tak akan pernah memberikan ujian kepada hamba melainkan sesuai dengan batas kemampuan hamba tersebut. Dan benar. Aceh kuat!

Jangan ditanya keadaan hatiku mengunjungi beberapa tempat di Aceh. Remuk redam rasanya. Aku menginjakkan kaki di bumi Rencong 10 tahun setelah Tsunami ada di tempat tersebut. Tapi auranya berasa tak bisa hilang. Bahkan hingga 12 tahun ia sudah berlalu dan kutulis melalui tulisan ini.

Ini adalah beberapa foto yang pernah aku ambil saat di Aceh.

Masjid Baiturrahman Aceh

Pemakaman massal di area bekas RS. Meuraxa. Di sini terbaring 14.000 saudara kita.

Salah satu rumah yang tidak direnovasi lagi. Kalau tidak salah ingat, sekeluarga Polisi penghuni rumah semuanya meninggal bersama 120.000 jiwa lainnya saat Tsunami menerjang.

Kapal Lampulo. Kapal nelayan yang terbawa ke daratan saat Tsunami. Menyelamatkan sekitar 60 jiwa. Saat air surut, kapalnya berada di atas rumah. Dan kata orang yang di atas kapal, sempat melihat buaya raksasa bersamaan dengan surutnya air.

Kapal PLTD Apung milik PLTN yang beratnya berton-ton ikut terbawa air hingga ke daratan.

Kalau kamu pernah lihat foto tanah Lhok Nga pasca Tsunami dan satu-satunya bangunan yang berdiri adalah masjid, inilah masjid tersebut.

Salah satu bagian di dalamnya sengaja tak direnovasi sebagai bukti bisu Tsunami pernah ada di sini. Salah satu tulisan di bagian ruangan inilah yang menjadi judul tulisanku. “Don’t forget tsunami”

Museum Tsunami rancangan arsitek pak Ridwan Kamil. Bagian atasnya bisa digunakan sebagai tempat menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu ada Tsunami. Jangan tanya saya, apa saja di dalamnya. Aku hanya memasuki satu ruangan diorama dengan diiringi lagu daerah Aceh berjudul Dodo daidi. Setelahnya langsung keluar karena dada sesak. Gak kuaaaat.

Nama saudara-saudari kita yang pergi bersama Tsunami Aceh.

Bangunan perlindungan dari Tsunami. Di Aceh setelah Tsunami, banyak dibangun bangunan-bangunan ini. Bangunan yang mirip dengan yang banyak di Jepang.

Aceh kuat!

Yang terkini, gempa kembali mengguncang tanahnya. Semoga Aceh kuat, karena aku tahu Aceh selalu kuat. Sudah teruji dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi. Bahkan penjajah tak bisa mencengkerammu. Untuk teman-teman yang punya sedikit kelapangan rezeki, boleh mampir ke m.kitabisa.com/acehkuat#

Sebelum kakiku kembali menginjakkan tanah Rencong, kuharap do’aku sudah sampai ke sana terlebih dahulu. Aceh loen sayang.

Dari anak Bugis yang pernah menapakkan jejak di bumimu.

Ahmad Shofwan Muis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s