​Kamu Lagi dan Tak Pernah Bosan. Lawu.

Pos 4 Cokro Suryo 3150 mdpl (Cemoro Kandang)

“Andai saja jatuh cinta itu bisa memilih. Aku tak akan jatuh cinta pada gadis Jawa berkali-kali.”

Kamu masih lanjut membaca? Catch ya! Tulisan ini bukan tentang cintaku pada gadis Jawa. Tapi kepada satu gunung bernama Lawu. Aku jatuh cinta padanya, berkali-kali, dengan cara yang sederhana.

Banyak yang sering bertanya “Opo gak bosan, Lawu lagi Lawu lagi?” Jawabku cuma satu “Tentu tidak!”
Kuberitahu sedikit rahasia kenapa aku selalu suka dengan hal yang berulang-ulang tanpa bosan.

“Jadikan setiap perjalanan memiliki keunikannya masing-masing hingga menjadikan perjalanan itu seperti perjalanan yang pertama kali.”

Aku sudah beberapa kali bertemu dengan Hargo Dumilah. Tapi tiap perjalanannya memiliki cerita “pertama kali”-nya masing-masing. Yang pertama, tentu menjadi yang pertama mengenal Lawu.

Pertama kali berikutnya adalah tek-tok sendirian. Naik gunung kemudian turun lagi dan sendirian. Jalan jam 6 pagi, muncak hanya sekitar 5 menit kemudian langsung turun lagi. Sampai di basecamp jam 7 malam. Dan jam 8 malamnya lanjut mengisi materi di salah satu Makrab Himpunan Mahasiswa UNS.

Pertama kali berikutnya, yang mungkin gak baik untuk dicontoh. Jalan ke Lawu di malam hari dan sendirian. Perjalanan bunuh diri sesunggunya, mengingat pendakian itu di hari minggu sore. Waktu para pendaki lainnya sudah perjalanan turun gunung. Dan ketemu badai di pos 4-5 via Cemoro Kandang. Mengingat perjalanan tersebut, aku selalu bersyukur masih bisa hidup dan menuliskannya di sini. Perjalanan bodoh hanya karena sebuah perasaan yang lumrah kita sebut dengan kata “galau”.

Pertama berikutnya adalah nanjak Lawu dengan tandem. Membawa carrier depan belakang. Sempat gak percaya juga dengan badan yang kecil ini. Tapi alhamdulillah ternyata kuat.

Pertama yang lainnya adalah jalan malam dan ternyata ada dua titik longsor dan pohon tumbang hang menutupi jalur. Sempat membuat bingung dan dag-dig-dug di dada. Dan tanpa disadari, “ada” yang nolongin buat nunjukin jalan. Tapi bukan aku yang ngelihat. Hehe untung aja.

Yap, itulah kamu. Lawu. Aku tak akan pernah bosan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s