Puisi Lapar

Aku lapar. Tapi aku mencintaimu.
Aku rela menjadi segelas milo.
Aku ingin menjadi energi untuk kamu menang setiap hari.
Aku ingin menjadi roti tawar pengganjal perut di sarapan pagimu.
Aku ingin menjadi semangkuk sop ayam pak Min Klaten yang kamu santap di kala hujan turun.

Tapi aku lapar.

Kurasa aku lebih butuh semua itu dibanding kamu.
Aku butuh banyak energi. Tanpa energi, bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu dengan utuh.

Ahmad Shofwan Muis
Di suatu waktu dalam keadaan lapar

Weekend kemarin ikut acara #JanuariBerpuisi punya temen-temen Komunitas Berpuisi. Sebuah komunitas pecinta Puisi. Syarat gabungnya adalah harus belajar dan membuat puisi. Tapi setelah melihat puisi buatanku dan kupikir-pikir kayaknya keahlianku bukan membuat puisi. Gak jadi gabung deh kayaknya. Hehe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s