Menata Rindu

“Ayo main petak umpet!
Sekarang, tutup matamu.
Temukan dimana rindu kusembunyikan”
-Baleno, 2017-

*Menata rindu*

Rindu tak mengenal hari libur.
Rindu. Menyergap, lalu lenyap dalam senyap.
Rindu. Jika kau berlari, dia akan menangkapmu. Jika kau bertahan, dia akan memakanmu.
Rongga dada sesak. Penuh rindu yang berjejal ingin keluar.

Pada awan putih di langit. Itu rindu penduduk bumi yang menguap.
Pada senja di lembayung sore. Itu kumpulan rindu. Rindu dari jauh.
Pada bulan malan ini, aku menitipkab rindu pada matahari, agar menyapamu kala kau terbangun.
Jika ada galaksi kenangan, niscaya di situ ada bintang dari air mata haru, serta planet bahagia yang dikelilingi satelit-satelit rindu.

Bertemu malu, tak bertemu rindu. Kata slogan truk.
Kata orang, obat rindu itu adalah bertemu. Tapi juga kadang rindu yang baru.

Kau tahu rindu selalu berada dalam barisan bait-bait do’a para penduduk bumi.
“Dengan menyebut nama-Mu, aku berlindung dari godaan rindu yang bertumpuk.”
Jika rindu adalah basmalahku, yang memulai semuanya. Maka kau adalah aminku, yang menutup dan menuntaskan segalanya.

Dear someone. Meski kita tak saling berpegang tangan atau bahkan saling sapa, percayalah cintaku mendekap erat kasihmu. Jarak hanya sejauh rindu.

Ahmad Shofwan Muis.
Bukan puisi. Ini kumpulan twit di @shofwanmuis dan @mendesah yang kurangkai menjadi satu.
Dalam rentang waktu 2012-2017.

Pada twitter aku berterimakasih.
Berkatnya, kita semua bisa menyampaikan rasa rindu tanpa harus mengkhawatirkan perihal akan terbalas atau kah tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s