Jangan ke Merbabu! Ia sedang sendu.

Januari ini adalah bulan terasyik bagi langkah kaki dan pundak kecilku. Betapa tidak, dalam sebulan tiga kali mengecap keterasingan. Sekali melangkah ke Lawu saat tahun baru, dan dua kali berturut-turut dalam dua pekan memanggul carrier Tarebbi biru ke Merbabu.

Banyak orang yang memilih naik gunung di musim kemarau. Cuaca lebih bersahabat dan tentu pemandangannya juga bisa dapat. Dan itu pilihan yang sah-sah saja. Sama wajarnya jika aku memilih naik gunung meski di musim penghujan.

Dalam dingin dan basahnya musim penghujan, keterasingan dan kesendirian terasa lebih mencekam. Tapi justru di situ kita makin merasa tidak sendirian. Ada yang mengawasi dari jauh. Meski Ia mengirimkan angin dan hujan, Ia pula yang menemani dan melindugi.

Alhamdulillah, dua kali Merbabu dan dua-duanya hujan. Pendakian kedua lah yang paling menguras hati. Melalui jalur Gancik (Selo baru), Merbabu menumpahkan semua kesenduannya dalam bentuk air hujan bercampur angin kencang bernama badai. Jalan pontang-panting, berlumpur, jarak pandang hanya beberapa meter, tenda ambruk, flysheet sobek menjadi cerita pelengkap cinta gunung Merbabu di januari.

Pendakian dimulai jam setengah 12 siang dengan jalan santai, setelah foto-foto di Gancik Hill Top.

Di pos 1, ada beberapa rombongan yang turun. Badai, katanya. Mereka sudah sampai di pos 2, tapi turun lagi. Tapi dasar kami kumpulan lelaki bebal dipadu aku yang berani nekat karena sudah tahu jalan, akhirnya kita memilih lanjut.

Rehat sejenak di pos 2

Pos 2 menuju pos 3 adalah bagian punggung bukit yang sangat terbuka. Menjadikan tubuh kita santapan lezat angin yang kencang. Di tengah-tengahnya sebelum zona Edelweiss sembari beristirahat di semak-semak, ternyata ada sinyal! Dan May, salah satu teman sempat-sempatny membuat storygram. Haha dasar netizen! Apa-ap diupdate.

Pos 2 menuju pos 3 ini sebenarnya adalah spot paling asyik untuk camping ceria. Pemandangan punggugan bukit berundak-undak dari Merbabu plus keanggunan Merapi tepat di depan mata (dengan catatan cuaca cerah). Jadi buat kamu yang ingin nanjak di musim kemarau, meski via Gancik tidak ada sumber air, ini adalah jalur yang sangat direkomendasikan karena pemandangannya. Aku sempat menikmati pemandangannya meski hanya beberapa saat (waktu pendakian Merbabu yang pertama naik via Selo – turun Gancik).

Sedikit penjelasan tambahan. Gancik ini adalah jalur baru. Dulunya adalah jalur evakuasi. Tapi sekarang (tepatnya sejak 6 bulan lalu) sudah dibuka untuk umum. Jalurnya lebih landai (kecuali tanjakan mantab jiwa antara pos 2-zona edelweiss) dan pemandangan Merapi di sebelah kita saat berjalan. Jalur Gancik ini akan bertemu dengan pos 3 jalur Selo lama. Setelahnya ada Watu Tulis, Sabana 1, Sabana 2, Watu Lumpang dan puncak (Trianggulasi lurus, Kenteng Songo kanan).

Pos 3 yang lapang adalah tempat tenda-tenda ambruk. Beberapa rombongan mengemasi tenda dan memilih turun. Kami? Lanjut naik. Kabut tebal jarak pandangan maksimal 5 meter jadi bumbu pengantar menuju Sabana 1. Pukul 4 sore kaki sudah menginjak Sabana 1. Salah satu spot camping yang favorit karena banyak pepohonan yang bisa membuat tenda lebih terlindungi. Gerimis mulai mereda, dengan menyimpan harapan besar di dada “Semoga besok, Merbabu lebih bersahabat” kami memutuskan lanjut ke Sabana 2.

Begitu meninggalkan Sabana 1 menuju tanjakan Sabana 2, hujan deras disertai angin datang kembali. Balik arah enggan, lanjut jalan pun segan. Mau tidak mau aku sebagai yang di depan, memilih lanjut. “Ya Allah semoga ini keputusan tepat, nyawa empat teman lainnya bergantung pada keputusan ini.” Dan alhamdulillah pukul 5 sore kami touchdown Sabana 2 dengan tidak ada view sama sekali karena tertutup kabut. Hanya ada 1-2 tenda yang berani berdiri di sana.

Sisa-sisa tenaga digunakan mendirikan tenda agar segera bisa menghangatkan diri. Angin kencang mengambil tumbal berupa flysheet sobek. Hujan yang deras membuat tenda rembes. Komplit. Suara angin malam itu seperti suara desiran ombak saat sedang camping di pinggir pantai. Tenda goyang kiri kanan. Lima orang di dalamnya tidur dengan sleeping bag yang basah. Ini tidak sedang berusaha menjadi puitis. Tapi sedang berusaha menggambarkan kengerian malam itu.

Foto bonus “Makanan ternikmat sedunia ada dua: 1) makanan di gunung, dan 2) makan bersamamu”.

Esoknya, ternyata Merbabu tak kunjung mereda seperti harapan sebelumnya. Alhamdulillah masih dapat kesempatan muncak meski dengan menerobos kabut dan tak ada pemandangan apa-apa di atas.

Pepi si cowok nggak jelas. Karena kabut.

Pose dulu sebelum jalan turun.

Sabana 1. Bahkan sabananya tak terlihat.

Perjalanan turunnya? Sama dengan perjalanan naik.

Aku pernah bilang ke seorang teman “Di gunung, kalau lagi hujan biasanya anginnya gak kencang. Nah kalau anginnya lagi kencang, nggak bakal hujan karena awannya kebawa pergi ama angin. Kalau dapat hujan dan angin kencang berarti lagi dapet bonus aja ama gunungnya.” Dan pendakian kemarin adalah bonus terbaik dari Merbabu! Haha.

Buat kamu yang ingin menikmati kecantikan Merbabu, jangan dulu! Ia sedang sendu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s