Kawah Luka: Pendakian Gunung Sindoro

Bulan januari tahun ini adikku Naufal Fadlurrahman Muis menginjak usia 17 tahun. Di usia 16 tahun, tepatnya januari lalu. Aku menghadiahkan gunung pertamanya, gunung Sindoro.

Pendakian Sindoro tahun lalu juga dilaksanakan di januari. Bulan pembuka musim hujan setelah kemarau panjang yang membuat beberapa gunung terbakar. Naufal yang waktu itu lagi liburan, kuajak untuk ikut serta.

Istirahat di pos 2 Sindoro via Kledung

SMP kelas 3 insyaAllah akan kuat. Mengingat gunung pertamaku (gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan) dulunya juga saat kelas 3 SMP.

Perjalanan hari pertama kami sempat dihajar badai. Naasnya, pakaian Naufal basah semua karena pembungkus plastik dalam daypacknya kurang rapat. Alhamdulillah aku membawa pakaian yang lebih banyak.

Gunung Sumbing dari Sindoro.

View pagi hari setelah badai semalam.

Singkat cerita setelah lelah dihajar badai semalaman, kita kesiangan. Summit sudah jam 9. Aku menemani Naufal dan Lukman (adek di Kementerian Sosma BEM UNS) kami menyusul rombongan lainnya yang sudah di depan karena lebih pro. Jalan lima langkah, duduk. Lima langkah, duduk. Haha. Lukman yang napasnya sudah tersengal-sengal akhirnya menyerah “Udah bang, gue tunggu di sini aja. Lanjut jalan gih.” Sedikit air kutitipkan buat si Lukman, dia biar menunggu rombongan yang turun.

Foto bareng setelah muncak. Kalau gak salah namanya Watu Tatah. Kalau gak ada kabut, keren. View langsung ke Sumbing.

Bersama Naufal kulanjutkan jalan. Sekitar 20 meter mendekati puncak, asap belerang keluar. Naufal tidak betah dengan baunya. Karena melihat rombongan yang di depan sudah turun dan menuju kami, akhirnya Naufal memutuskan ikut turun. Padahal puncak sudah di depan mata! Sedikit sedih, karena gagal menghadiahi Naufal puncak pertamanya. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada terjadi hal yang tak diinginkan.

Setelah menitipkan Naufal ke teman-teman yang lain, aku lanjut jalan. Di puncak pun tak terlalu lama. Hanya sekitar lima menit. Memandang ke bawah, kawah luka gunung Sindoro. Kawah yang aku jamin tak ada yang sanggup memandangnya lama-lama. Jangankan memandang, mendekat pun harus berpikir berkali-kali. Belerangnya selalu siap menyesakkan rongga dadamu. Tapi dasar kadang aku yang gak berpikir kalau melakukan sesuatu, akhirnya ya mendekat aja.

Kunamakan “Kawah Luka” karena bikin nyesek dada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s