KITA SATU FREKUENSI

Senja di salah satu sudut gunung Lawu. Dengan planet Venus menampakkan sedikit dirinya.


Tak perlu menunggu ataupun mencari. Kata “Kamu” dan “Aku” akan bersatu. Kata “Kita” akan dipertemukan. Sesuai dengan ketetapan-Nya, di saat yang mungkin belum tentu cepat tapi pasti tepat.
Dengan orang yang satu frekuensi.

Dengan dia yang cukup satu senyumnya bisa melengkapi keindahan Indonesia yang selama ini diidamkan.

Kepada dia yang cukup hanya dengan senyumnya kita mengerti apa yang ingin disampaikannya.

Bersama dia yang cukup hanya dengan senyumnya seakan algoritma terserah dan gak papanya wanita itu menjadi rumus yang sangat menyenangkan untuk dipecahkan.

Dengan dia yang tanpa emoticon senyum pun kamu sudah tahu, dia sedang tersenyum membaca pesanmu di ujung sana. Di kota yang lain. Entah di mana dia.

Dengan dia, kita yang satu frekuensi.

Bawakaraeng: Gunung Pertama Shofwan Kecil

Sebuah perjalanan yang pada awalnya membuat saya tak bisa bercerita karena saking takjubnya. Dan kemudian membawa saya menjadi bercerita banyak hal setelahnya. Juga karena saking takjubnya.

Liburan kenaikan kelas 3 SMP kalau saya tidak salah ingat. Dibersamai guru paling keren dan favorit anak SMPIT Al-Biruni Makassar, pak Amin. Bersama teman yang lainnya Dede, Ukki, Rial, Affaq, Ari, Jaya dan Pandi. Pak Amin memberikan gunung pertama kami. Kurru sumange’ pak Amiiiin :))
Gunung Bawakaraeng. Bawa berarti mulut, sedangkan Karaeng berarti Raja atau Tuhan. Bawakaraeng adalah Gunung Mulut Tuhan. Memiliki ketinggian 2845mdpl dengan trek panjang 10 pos. Bawakaraeng ini adalah Lawu-nya Sulawesi Selatan. Puncak gunung dengan suhu yang paling dingin sehingga kadang ada pendaki yang terserang hipotermia. Gunung yang cuacanya sangat sulit diprediksi. Gunung yang penuh cerita mistis. Dan ada cerita haji Bawakaraeng. Agak mirip dengan haji Lawu. Siapa yang mendaki gunung ini bisa diibaratkan berhaji ke tanah suci sana. Jadi, saya udah haji dua kali di Indonesia. Haji Bawakaraeng dan haji Lawu. Haha. Yeay!
Pendakian kami lalui dua hari menuju puncak Tallung, Bawakaraeng. Bukan puncak utama. Puncak Tallung ini jalan menuju lembah Ramma. Lembah antara Bawakaraeng dan pegunungan Lompobattang (kalau tidak salah, mohon dikoreksi). Jalur menuju lembah Ramma ini berbeda dengan jalur menuju puncak utama. Jadi jika kamu ke Bawakaraeng, kamu tidak bisa menikmati keduanya seperti kamu bisa menikmati Ranu Kumbolo sepaket dengan puncak Mahameru di Semeru.
Perjalanan diawali dari basecamp di desa Lembanna, Malino. Keseruan karena pemandangan yang pepohonan berlumut yang benar-benar keren berpadu dengan kengerian karena pengalaman pertama naik gunung. Jalur pendakian jaman dulu tidak sejelas sekarang. Terlebih dengan gunung-gunung di pulau Jawa. Jalan setapaknya sangat jelas, banyak penunjuk arah bahkan kita selalu berpapasan dengan pendaki lain. Waktu itu, seingat saya hanya ada rombongan kami.
Dari pos 1, kita mengambil jalan ke kanan. Jika mengambil jalan lurus akan bertemu pos-pos berikutnya menuju punjak 2835mdpl Bawakaraeng.
Hari dan malam pertama kita habiskan di sungai kedua setelah pos 1. Ada aliran sungai yang jernih dengan kontur bebatuan plus tempat lapang mendirikan tenda. Dan sepanjang perjalanan menuju pos ini pun kita jalan beriringan dengan parit-parit kecil berair jernih yang masih tidak lekang dari ingatan saya tentang gunung. Airnya bisa langsung diminum, cukup turunkan kedua tangan, ambil dan glek. Segar! Lelah pundak dan kaki rasanya hilang karena di kota tidak mungkin ada pengalaman seperti ini! Entah sekarang bagaimana keadaannya. Sudah lewat belasan tahun dari waktu itu.

Saya yang duduk di batu sana. Lagi kaget, menemukan ada pacet nangkring di kaki saya. Belum mengenal tekhnologi bernama gaiter.

Di hari kedua kami melanjutkan perjalanan menuju puncak Tallung. Dan di sini lah kami! Anak-anak SMP yang menikmati gunung pertamanya. Kami tidak turun menuju lembah Ramma karena medan yang curam dan berbahaya untuk anak-anak seusia kami.

Mengabadikan momen di puncak Tallung dengan kamera hape Nokia 6600 punya Rial

Bisa tebak saya yang mana? Hahaha. Satu juta rupiah dipotong pajak 100%! Yap! Saya yang kanan bawah.

Sayang hanya dua foto itu yang kami punya. Dua foto ini pun hasil unggahan di Facebook

Bawakaraeng, gunung pertama Shofwan kecil. Tidak banyak yang bisa saya ingat dan ceritakan dengan detail karena rasanya sudah sangat lama. Pendakian yang kemudian menjadi sumber inspirasi untuk menghadiahkan Sindoro sebagai gunung pertama buat hari ulang tahun Naufal Fadlurrahman Muis, di usia yang sama dengan saya dulu.

Belajar dan Berbagi adalah Siklus Kehidupan

Akhir pekan kemarin adalah akhir pekan yang paling luar biasa dan sangat menyenangkan. Pertama, saya sudah menjadwalkan untuk mengikuti kelas Mendongeng #2 bersama kak Rona Mentari di Jogja. Tepatnya tanggal 11-12 dari jam 8 pagi hingga jam 1 siang. Tapi ternyata beberapa hari sebelumnya, saya dihubungi seorang teman, sebut saja Tria Rahmawati penggagas Youth Project Social. Saya diberi kesempatan untuk berbagia di acara Solo Social Camp tentang Social Movement. Satu materi yang sebenarnya saya juga belum terlalu percaya diri membawakannya. Tapi diyakinkan lagi bahwa saya pasti bisa.

Dan yap. Petualangan dimulai. Hari pertama dilibas dengan naik motor ke Jogja, hingga siang dan sorenya langsung tancap gas lagi menuju Tawangmangu untuk acara Solo Social Camp.

Mbak Rona Mentari membawakan kelas Mendongeng

Bersama teman yang lain berusaha memainkan ekspresi bahagia

Di kelas mendongeng ini saya belajar banyak hal baru. Apa esensi dari dongeng, bagaimana mendongeng yang menarik hingga hal-hal dasar yang bisa membantu pembacaan dongeng menjadi lebih baik. Mbak Rona Mentari dan timnya benar-benar keren! Membuka mata saya tentang dongeng. Dongeng yang lebih menyenangkan dibanding yang selama ini saya ketahui. Dongeng yang lebih hidup tak sekadar hanya seperti membaca buku. Kita diajarkan berekspresi, menirukan suara bahkan hingga hal detail seperti pengolahan napas. Tepuk salut buat kelas Mendongeng #2!

Kita cobain mendongeng dengan spontan

Tim Ayam kelas Mendongeng #2

Foto bersama peserta di hari pertama kelas Mendongeng #2

Belajar dan berbagi adalah siklus pasti kehidupan manusia.

Tak melulu menyerap ilmu, ilmu juga harus dibagikan. Seperti yang saya ucapkan sebelumnya, saya diberi kesempatan untuk sedikit membahas tentang social movement di Solo Social Camp. Di sini saya menceritakan tentang gerakan #BotakinShofwan. Sebuah gerakan penggalangan dana melalui kitabisa.com untuk membantu adik-adik cancer fighter di ruang bermain Maya Ananta RS. Moewardi Solo. Sebuah gerakan yang sebenarnya adalah bentuk rasa syukur karena sebentar lagi saya lulus kuliah. Sebuah gerakan kecil yang awalnya hanya mengajak teman-teman dekat untuk ikut berdonasi namun seiring berjalannya waktu membesar seperti bola salju yang menggelinding. Hingga sekarang sudah terkumpul sekitar 20 juta rupiah.

Ini Hera. Salah satu blogger favorit saya. Dan ternyata jadi peserta Solo Social Camp haha. #ShofwanFansHera

Belajar untuk meningkatkan kapasitas diri, berbagi untuk bisa menghebatkan orang lain.

Oiya, satu rahasia. Tidak akan ada orang yang jatuh miskin, menjadi bodoh karena membagikan apa yang dimilikinya. Baik harta maupun ilmu. Hartanya dijamin oleh Allah. Ilmunya tentu akan juga makin kuat. Karena “Aku melakukan, aku belajar satu kali. Aku menceritakan dan membagikan ke orang lain, maka aku belajar lebih lagi”.

Ahmad Shofwan Muis.

Pendekar bodoh yang akan selalu belajar.