Berterimakasih ala Orang Bugis-Makassar

“Shof, apa bahasa Makassarnya terimakasih?”

Satu pertanyaan yang sontak membuat saya bingung. Karena sungguh tidak ada kosakata dalam bahasa Bugis maupun Makassar yang bisa merepresentasikan secara utuh dan tepat kata terimakasih seperti halnya Hatur Nuhun (Sunda), Matur Nuwun (Jawa) atau Teurimonggeunasih (Aceh).

Berterimakasih dalam Bugis Makassar tidak melalui simbolisasi perkataan. Terimakasihnya Bugis Makassar jauh lebih dalam. Orang Bugis Makassar biasanya berterimakasih dengan mendo’akan langsung yang terbaik kepada orang yang memberikannya pertolongan atau barang, kemudian berusaha membalasnya dengan yang lebih baik atau minimal setara di kemudian hari.

Kalau kata budayawan Anhar Gonggong “Bagi Bugis Makassar, terimakasih itu bukan ungkapan melainkan sikap dan tindakan.”

Gambar latar pelabuhan Paotere untuk kapal Phinisi

Biasanya jika orang Bugis Makassar diberi sesuatu, maka dia juga akan membalas dengan memberi sesuatu yang dimilikinya. Dan jika tak bisa memberikan sesuatu, dia akan berucap “Puang Allah ta’ala mpale’ki,” atau “Semoga gusti Allah nanti yang membalas,” dan menganggap dirinya berhutang yang harus dibalas di kemudian hari saat sudah mampu.
Contoh sederhana, tetangga memberikan kari kambing di mangkok. Keesokan hari saat mangkok dikembalikan, mangkoknya gak boleh kosong. Minimal ada kue di atasnnya.

Contoh lainnya waktu saya waktu SMA dan belum punya motor. Saya sering nebeng dengan teman yang rumahnya searah dengan kost saya. Oleh orangtua, saya diajarkan berterimakasih dengan cara membayarkan bensin teman saya tersebut. Dan tentu tetap dengan mengucapkan ’Terimakasih’ dalam bahasa Indonesia agar teman saya mengerti.

Tapi kemudian Bugis Makassar memiliki kata lain yang memiliki makna sedikit mewakili dalam menyampaikan rasa terima kasih. ‘Kurru Sumange’. Pengungkapan untuk menyatakan empati. Jadi sebenarnha jauh lebih luas daripada sekadar terimakasih. Kurru Sumange mengandung makna empati, simpati, doa dan terima kasih.

“Kurru berarti selamat dan Sumange itu semangat,” kata ayahanda Anhar Gonggong.

Kurru sumange ini biasanya dipakai orangtua jaman dulu. Buat anak muda sekarang sih kebanyakan menggunakan “Terimakasih” dan jawabannya “Sama-sama” atau “Kembali kasih”. Hehe

Jadi itu lah sedikit tentang bagaimana berterimakasih ala orang Bugis Makassar.

Tertarik menjadi bagian dari budaya kami dan menjadi orang Bugis Makassar? Hubungi hotline di bawah ini……. Hahahaha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s