Belajar dan Berbagi adalah Siklus Kehidupan

Akhir pekan kemarin adalah akhir pekan yang paling luar biasa dan sangat menyenangkan. Pertama, saya sudah menjadwalkan untuk mengikuti kelas Mendongeng #2 bersama kak Rona Mentari di Jogja. Tepatnya tanggal 11-12 dari jam 8 pagi hingga jam 1 siang. Tapi ternyata beberapa hari sebelumnya, saya dihubungi seorang teman, sebut saja Tria Rahmawati penggagas Youth Project Social. Saya diberi kesempatan untuk berbagia di acara Solo Social Camp tentang Social Movement. Satu materi yang sebenarnya saya juga belum terlalu percaya diri membawakannya. Tapi diyakinkan lagi bahwa saya pasti bisa.

Dan yap. Petualangan dimulai. Hari pertama dilibas dengan naik motor ke Jogja, hingga siang dan sorenya langsung tancap gas lagi menuju Tawangmangu untuk acara Solo Social Camp.

Mbak Rona Mentari membawakan kelas Mendongeng

Bersama teman yang lain berusaha memainkan ekspresi bahagia

Di kelas mendongeng ini saya belajar banyak hal baru. Apa esensi dari dongeng, bagaimana mendongeng yang menarik hingga hal-hal dasar yang bisa membantu pembacaan dongeng menjadi lebih baik. Mbak Rona Mentari dan timnya benar-benar keren! Membuka mata saya tentang dongeng. Dongeng yang lebih menyenangkan dibanding yang selama ini saya ketahui. Dongeng yang lebih hidup tak sekadar hanya seperti membaca buku. Kita diajarkan berekspresi, menirukan suara bahkan hingga hal detail seperti pengolahan napas. Tepuk salut buat kelas Mendongeng #2!

Kita cobain mendongeng dengan spontan

Tim Ayam kelas Mendongeng #2

Foto bersama peserta di hari pertama kelas Mendongeng #2

Belajar dan berbagi adalah siklus pasti kehidupan manusia.

Tak melulu menyerap ilmu, ilmu juga harus dibagikan. Seperti yang saya ucapkan sebelumnya, saya diberi kesempatan untuk sedikit membahas tentang social movement di Solo Social Camp. Di sini saya menceritakan tentang gerakan #BotakinShofwan. Sebuah gerakan penggalangan dana melalui kitabisa.com untuk membantu adik-adik cancer fighter di ruang bermain Maya Ananta RS. Moewardi Solo. Sebuah gerakan yang sebenarnya adalah bentuk rasa syukur karena sebentar lagi saya lulus kuliah. Sebuah gerakan kecil yang awalnya hanya mengajak teman-teman dekat untuk ikut berdonasi namun seiring berjalannya waktu membesar seperti bola salju yang menggelinding. Hingga sekarang sudah terkumpul sekitar 20 juta rupiah.

Ini Hera. Salah satu blogger favorit saya. Dan ternyata jadi peserta Solo Social Camp haha. #ShofwanFansHera

Belajar untuk meningkatkan kapasitas diri, berbagi untuk bisa menghebatkan orang lain.

Oiya, satu rahasia. Tidak akan ada orang yang jatuh miskin, menjadi bodoh karena membagikan apa yang dimilikinya. Baik harta maupun ilmu. Hartanya dijamin oleh Allah. Ilmunya tentu akan juga makin kuat. Karena “Aku melakukan, aku belajar satu kali. Aku menceritakan dan membagikan ke orang lain, maka aku belajar lebih lagi”.

Ahmad Shofwan Muis.

Pendekar bodoh yang akan selalu belajar.

Advertisements

One thought on “Belajar dan Berbagi adalah Siklus Kehidupan

  1. Reblogged this on Sukma Pangastuti and commented:
    Matur sembah nuwun lo Mas Shofwann. Hihiii. Ungkapan ‘fans’ membuat saya tercengang sesaat. Karena dari sekian lama menulis dan sekian dikitnya karya saya, baru kedua kali ini dinotice orang lain. Semoga menjadi lebih baik ke depannya. Hehe. Sekali lagi matur nuwun Mas Shofwan, semoga tulisannya berkaah~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s