Pesan dari dan buat Unun

“Sebelum akad, semua yang mendekat adalah teman.” – Khusnun Puspane Subagja.

Salah satu perkataan yang selalu kuingat dari seorang sahabat. Namanya Unun. Teman ngobrol, diskusi, nulis, belajar editing VSCO pakai filter Hypebeast dan bahkan pernah jadi Menejer Komiteku di HIMAPSI. Kenapa di hari terakhir #30HariBercerita ini aku menceritakan tentang Unun? Ya karena pengen aja. Namanya juga aku yang nulis. Gak butuh alasan. Pengen aja sudah menjadi alasan yang kuat menurutku. Haha

#fromwhereistand di IG-nya Unun

Jadi gini. Dia anaknya asik abis. Dia bisa menjaga persahabatan melalui cara yang asik dengan tetap berpegang pada prinsip agamanya. Nih, salah satunya lewat do’a kirimannya, bertepatan hari di mana usia hidupku di bumi berkurang.

Dear Ahmad,

Jika menurutmu hari ini adalah hari terbaikmu maka itu benar.

Jika nabi bersabda bahwasannya barang siapa yg menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk gol kaum tsb. Sama halnya perkara. mengucapkan selamat ulang tahun

Bukan perdebatan tentang sebuah dalil.

Jika aku tak mampu berucap untuk menyelamat, izinkan aku untuk mendoakan

Semoga selalu sehat walafiat, Alloh paring rezeki, jodoh, takdir yg barokah. Karena barokah tidak selalu berwujud, semoga hati dan niat yg kamu lakukan dapet berbuah manfaat dan kebaikan buat sesama

Selamat validasi, Shof (buat kali ini manggilnya Shof). Semoga bisa bertemu di sebuah kesempatan :)

Kalimat dalam kurung itu ada karena dia biasanya manggil “Wan”.

Kemudian kubalas aja gini…

Teruntuk nona Khusnun yang Besok Mau Nikah dan menjaga diri untuk tidak boncengan dengan lawan jenis.

Aamiin yaa robbal aalamiiin. Tak ada yg bisa dibalas oleh Shofwan kecuali terima kasih banyak. Dan semoga segala kebaikan kembali pada yang medo’akan ya Nun!

Semoga segera dipertemukan ya Nun, baik maya maupun nyata.

Udah. Segitu aja.

Selamat menjaga diri. Selamat menjaga stabilitas hati, Nun!

PS: Buat yang baca, gak usah curiga. Buang jauh-jauh pikiran yang nggak-nggak tentang aku kepada Unun. Dia sahabat baikku.

Yah salah ya. Karena kutulis kalimat tadi, malah otak manusia menjadi berpikiran yang nggak-nggak ya? Otak manusia malah menegasikan kata “Jangan” ya? Yah yaudah deh. Pokoknya gitu.

Advertisements

Kawah Luka: Pendakian Gunung Sindoro

Bulan januari tahun ini adikku Naufal Fadlurrahman Muis menginjak usia 17 tahun. Di usia 16 tahun, tepatnya januari lalu. Aku menghadiahkan gunung pertamanya, gunung Sindoro.

Pendakian Sindoro tahun lalu juga dilaksanakan di januari. Bulan pembuka musim hujan setelah kemarau panjang yang membuat beberapa gunung terbakar. Naufal yang waktu itu lagi liburan, kuajak untuk ikut serta.

Istirahat di pos 2 Sindoro via Kledung

SMP kelas 3 insyaAllah akan kuat. Mengingat gunung pertamaku (gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan) dulunya juga saat kelas 3 SMP.

Perjalanan hari pertama kami sempat dihajar badai. Naasnya, pakaian Naufal basah semua karena pembungkus plastik dalam daypacknya kurang rapat. Alhamdulillah aku membawa pakaian yang lebih banyak.

Gunung Sumbing dari Sindoro.

View pagi hari setelah badai semalam.

Singkat cerita setelah lelah dihajar badai semalaman, kita kesiangan. Summit sudah jam 9. Aku menemani Naufal dan Lukman (adek di Kementerian Sosma BEM UNS) kami menyusul rombongan lainnya yang sudah di depan karena lebih pro. Jalan lima langkah, duduk. Lima langkah, duduk. Haha. Lukman yang napasnya sudah tersengal-sengal akhirnya menyerah “Udah bang, gue tunggu di sini aja. Lanjut jalan gih.” Sedikit air kutitipkan buat si Lukman, dia biar menunggu rombongan yang turun.

Foto bareng setelah muncak. Kalau gak salah namanya Watu Tatah. Kalau gak ada kabut, keren. View langsung ke Sumbing.

Bersama Naufal kulanjutkan jalan. Sekitar 20 meter mendekati puncak, asap belerang keluar. Naufal tidak betah dengan baunya. Karena melihat rombongan yang di depan sudah turun dan menuju kami, akhirnya Naufal memutuskan ikut turun. Padahal puncak sudah di depan mata! Sedikit sedih, karena gagal menghadiahi Naufal puncak pertamanya. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada terjadi hal yang tak diinginkan.

Setelah menitipkan Naufal ke teman-teman yang lain, aku lanjut jalan. Di puncak pun tak terlalu lama. Hanya sekitar lima menit. Memandang ke bawah, kawah luka gunung Sindoro. Kawah yang aku jamin tak ada yang sanggup memandangnya lama-lama. Jangankan memandang, mendekat pun harus berpikir berkali-kali. Belerangnya selalu siap menyesakkan rongga dadamu. Tapi dasar kadang aku yang gak berpikir kalau melakukan sesuatu, akhirnya ya mendekat aja.

Kunamakan “Kawah Luka” karena bikin nyesek dada.

Jangan ke Merbabu! Ia sedang sendu.

Januari ini adalah bulan terasyik bagi langkah kaki dan pundak kecilku. Betapa tidak, dalam sebulan tiga kali mengecap keterasingan. Sekali melangkah ke Lawu saat tahun baru, dan dua kali berturut-turut dalam dua pekan memanggul carrier Tarebbi biru ke Merbabu.

Banyak orang yang memilih naik gunung di musim kemarau. Cuaca lebih bersahabat dan tentu pemandangannya juga bisa dapat. Dan itu pilihan yang sah-sah saja. Sama wajarnya jika aku memilih naik gunung meski di musim penghujan.

Dalam dingin dan basahnya musim penghujan, keterasingan dan kesendirian terasa lebih mencekam. Tapi justru di situ kita makin merasa tidak sendirian. Ada yang mengawasi dari jauh. Meski Ia mengirimkan angin dan hujan, Ia pula yang menemani dan melindugi.

Alhamdulillah, dua kali Merbabu dan dua-duanya hujan. Pendakian kedua lah yang paling menguras hati. Melalui jalur Gancik (Selo baru), Merbabu menumpahkan semua kesenduannya dalam bentuk air hujan bercampur angin kencang bernama badai. Jalan pontang-panting, berlumpur, jarak pandang hanya beberapa meter, tenda ambruk, flysheet sobek menjadi cerita pelengkap cinta gunung Merbabu di januari.

Pendakian dimulai jam setengah 12 siang dengan jalan santai, setelah foto-foto di Gancik Hill Top.

Di pos 1, ada beberapa rombongan yang turun. Badai, katanya. Mereka sudah sampai di pos 2, tapi turun lagi. Tapi dasar kami kumpulan lelaki bebal dipadu aku yang berani nekat karena sudah tahu jalan, akhirnya kita memilih lanjut.

Rehat sejenak di pos 2

Pos 2 menuju pos 3 adalah bagian punggung bukit yang sangat terbuka. Menjadikan tubuh kita santapan lezat angin yang kencang. Di tengah-tengahnya sebelum zona Edelweiss sembari beristirahat di semak-semak, ternyata ada sinyal! Dan May, salah satu teman sempat-sempatny membuat storygram. Haha dasar netizen! Apa-ap diupdate.

Pos 2 menuju pos 3 ini sebenarnya adalah spot paling asyik untuk camping ceria. Pemandangan punggugan bukit berundak-undak dari Merbabu plus keanggunan Merapi tepat di depan mata (dengan catatan cuaca cerah). Jadi buat kamu yang ingin nanjak di musim kemarau, meski via Gancik tidak ada sumber air, ini adalah jalur yang sangat direkomendasikan karena pemandangannya. Aku sempat menikmati pemandangannya meski hanya beberapa saat (waktu pendakian Merbabu yang pertama naik via Selo – turun Gancik).

Sedikit penjelasan tambahan. Gancik ini adalah jalur baru. Dulunya adalah jalur evakuasi. Tapi sekarang (tepatnya sejak 6 bulan lalu) sudah dibuka untuk umum. Jalurnya lebih landai (kecuali tanjakan mantab jiwa antara pos 2-zona edelweiss) dan pemandangan Merapi di sebelah kita saat berjalan. Jalur Gancik ini akan bertemu dengan pos 3 jalur Selo lama. Setelahnya ada Watu Tulis, Sabana 1, Sabana 2, Watu Lumpang dan puncak (Trianggulasi lurus, Kenteng Songo kanan).

Pos 3 yang lapang adalah tempat tenda-tenda ambruk. Beberapa rombongan mengemasi tenda dan memilih turun. Kami? Lanjut naik. Kabut tebal jarak pandangan maksimal 5 meter jadi bumbu pengantar menuju Sabana 1. Pukul 4 sore kaki sudah menginjak Sabana 1. Salah satu spot camping yang favorit karena banyak pepohonan yang bisa membuat tenda lebih terlindungi. Gerimis mulai mereda, dengan menyimpan harapan besar di dada “Semoga besok, Merbabu lebih bersahabat” kami memutuskan lanjut ke Sabana 2.

Begitu meninggalkan Sabana 1 menuju tanjakan Sabana 2, hujan deras disertai angin datang kembali. Balik arah enggan, lanjut jalan pun segan. Mau tidak mau aku sebagai yang di depan, memilih lanjut. “Ya Allah semoga ini keputusan tepat, nyawa empat teman lainnya bergantung pada keputusan ini.” Dan alhamdulillah pukul 5 sore kami touchdown Sabana 2 dengan tidak ada view sama sekali karena tertutup kabut. Hanya ada 1-2 tenda yang berani berdiri di sana.

Sisa-sisa tenaga digunakan mendirikan tenda agar segera bisa menghangatkan diri. Angin kencang mengambil tumbal berupa flysheet sobek. Hujan yang deras membuat tenda rembes. Komplit. Suara angin malam itu seperti suara desiran ombak saat sedang camping di pinggir pantai. Tenda goyang kiri kanan. Lima orang di dalamnya tidur dengan sleeping bag yang basah. Ini tidak sedang berusaha menjadi puitis. Tapi sedang berusaha menggambarkan kengerian malam itu.

Foto bonus “Makanan ternikmat sedunia ada dua: 1) makanan di gunung, dan 2) makan bersamamu”.

Esoknya, ternyata Merbabu tak kunjung mereda seperti harapan sebelumnya. Alhamdulillah masih dapat kesempatan muncak meski dengan menerobos kabut dan tak ada pemandangan apa-apa di atas.

Pepi si cowok nggak jelas. Karena kabut.

Pose dulu sebelum jalan turun.

Sabana 1. Bahkan sabananya tak terlihat.

Perjalanan turunnya? Sama dengan perjalanan naik.

Aku pernah bilang ke seorang teman “Di gunung, kalau lagi hujan biasanya anginnya gak kencang. Nah kalau anginnya lagi kencang, nggak bakal hujan karena awannya kebawa pergi ama angin. Kalau dapat hujan dan angin kencang berarti lagi dapet bonus aja ama gunungnya.” Dan pendakian kemarin adalah bonus terbaik dari Merbabu! Haha.

Buat kamu yang ingin menikmati kecantikan Merbabu, jangan dulu! Ia sedang sendu.