Manusia Indonesia: Pak Jaelani Pengurus Masjid Ash-Shadiq Mesen


“Mas Shofwan, jangan berkecil hati rumahnya jauh di Makassar. Indonesia ini jelmaan Al-Hujurat ayat 13. Kita diciptakan bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal.” Sambil tersenyum kepada saya yang lagi minum air putih.
Nama beliau pak Jaelani, pengurus paling sepuh masjid Ash-Shadiq Mesen. Coba tebak usia beliau. Salah! Usia beliau sudah 73 tahun. Beliau sampai membukakan dompetnya karena melihat air muka tak percaya dari wajahku. Bagaimana tidak, di usia yang seperti sekarang, beliau masih rajin sholat lima waktu di masjid dan masih sangat enerjik. Badannya masih tegap, jalannya tetap tegas.
“Rahasianya itu ada di pikiran kita mas Shofwan. Apa-apa itu jangan dijadikan beban. Hidup kita ini hanya titipan dari Allah SWT.” Sergahnya, saat saya tanya apa rahasia awet muda dari beliau.
Perbincangan ngalor-ngidul sekitar satu jam di serambi masjid menjadi perbincangan ternikmat pembuka malam. Perbincangan yang mulanya sederhana, beliau menawarkan air putih kepada saya. Dari Maghrib hingga masuk waktu Isya’. Dari perbincangan perkuliahan beliau, reuni 50 tahun bersama teman-temannya dan tentang istri beliau yang ternyata juga orang psikologi.
“Jadi saya ngerti teknik dan psikologi. Psikologi, ilmunya saya curi-curi dari istri saya. Hahahaha.” Bisa gitu ya. Kita ketawa bareng. Haha
“Rumah di Makassar, di mana? Dekat PLN Tello? Yang di pinggir sungai?”
“Bukan pak, saya di Rappokalling. Lho tapi kok tahu PLN Tello? Pernah di Makassar?” Usut punya usut beliau pernah penempatan kerja di Semen Tonasa Pangkep dan tiga tahun di Makassar. Wah pantas aja bapak Jaelani fasih betul mengucap Makassar (penekanan di huruf S) dan Sulawesi (huruf e bebek dengan sedikit agak lebih panjang) dibanding orang pada umumnya. Beliau pernah tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan! Setelah itu berpindah-pindah tempat ke berbagai pulau Indonesia.
“Saya mau tanya satu hal sederhana tapi prinsipil. Laut Makassar itu, memisahkan atau menyatukan pulau Sulawesi dan Kalimantan? Hayo?” Senyum menguji tampak dari wajah beliau.
“Mmmm… Menyatukan, pak! Kalau gak ada laut Makassar, gak bakal terhubung pulau Sulawesi dan Kalimantan!”
“Haha betul! Nah ini yang kadang luput dari perhatian kita. Hal sederhana tapi sangat prinsip. Kita diajarkan dengan narasi laut ini memisahkan pulau ini dengan pulau itu. Jadi seolah-olah Indonesia itu terpisah-pisah, padahal kita semua satu. Iya nggak, mas Shofwan?” Mata saya berkaca-kaca, rasanya ingin memeluk pak Jaelani. Belum pernah saya menikmati pembicaraan seperti ini dengan bapak haji, kakekku. Beliau sudah meninggalkan bumi jauh sebelum saya bisa memikirkan dan membicarakan hal-hal seperti ini. Kalau saja kakekku masih hidup, mungkin beliau seusia pak Jaelani. Terimakasih ya Allah, sudah membuatku berbincang dengan pak Jaelani.
“Yuk mas Shofwan, kita sholat Isya’. Titip Indonesia ya. Masa depannya Indonesia ada di generasi mas Shofwan dan teman-temannya. Jangan kecewakan pendahulu kita yang mendirikan Indonesia.” Wajah bijak pak Jaelani kembali melontarkan senyum, dan itu masuk jauh ke dalam hati saya.

Sebenarnya masih banyak hak yang disampaikan pada beliau. Hingga rasa-rasanya satu tulisan tidak sanggup menampung semuanya.

Andai saja kita ingin berhenti sejenak, mengamati dan megambil pelajaran dari sekitar kita akan menyadari bahwa sungguh banyak hikmah yang berserak di muka bumi.
Yang sedang berusaha menjadi pendengar yang baik.

Ahmad Shofwan Muis.