Aside

Seratus

Tak terasa sudah terlewati 100 hari kepengurusan HIMAPSI Ekspresi 2014. Sudah lebih dari 100 hari semenjak amanah ini memilih pundak kita sebagai pengembannya. Sudah lebih dari 100 hari pula kita melakukan kerja, kerja dan kerja yang terkadang air mata atau pun peluh mengisi di antaranya. Tak mengapa kawan. Jalan berjuang memang berat. Coba tanyakan hal tersebut kepada para prajurit di zaman penjajahan, mereka sudah khatam betul dengan yang namanya air mata, lelah, peluh atau bahkan darah.
Masih banyak yang harus kita lakukan dan perbaiki ke depannya. Untuk beberapa di antara kamu yang semangatnya mulai menurun, mari ingat kembali tujuan awal kita berada di jalan ini. Luruskan niat. Recharge semangat.
Kita di Himapsi tak sekadar menjalankan berbagai macam program kerja. Di Himapsi kita juga belajar bagaimana bermasyarakat. Mempersiapkan diri di dalam miniatur dunia yaitu kampus, sebelum menghadapi dunia sebenarnya yang ada di luar sana. Jika berjuang di sini saja kita tak kuat, Saya tak yakin bagaimana dengan diri kita di dunia luar nanti.
Yakinkan diri, kuatkan diri di balik ombak yang ganas ini akan ada sesuatu yang besar menanti kita. Kencangkan layar dan selamat berkarya di tengah samudra Kapten!
Salam Ekspresi!

Advertisements
Aside

Golput (Lagi)

Kita lahir, tumbuh, makan, bernapas, berpijak dan beratapkan langit dari Indonesia. Lantas, untuk kebaikan negeri dan diri sendiri kenapa kita enggan?
Mungkin sudah agak basi karena kita sudah melewati Pemilu Caleg kemarin. Tapi hingga sekarang, hal ini masih membuat saya jengah. Masih saja ada ajakan-ajakan untuk golput. Menjadi golongan putus asa tampaknya.
Kembali lagi kepada kalimat pembuka yang di atas, masih saja ada kawan-kawan kita yang tampak enggan memberi yang terbaik bagi negeri. Atau bahkan untuk diri mereka sendiri.
Berpartisipasi dalam pemilu salah satunya. Selalu saja ada yg mencari pembenaran akan ketidakbenaran dari golput. Alasan-alasan diciptakan. Padahal alasan adalah tanda ketidakmampuan. Tak kenal calonnya lah, hingga semua calon jelek lah.
Selalu ingat. Di antara yang terjelek pun, selalu ada yang lebih baik.
Mungkin bagi beberapa orang, logika pemilu seperti kita disuruh menjawab soal pilihan ganda yang tak ada jawabannya yang benar. Tak mengapa. Meski begitu, di antara jawaban tersebut pasti ada yang paling benar atau mungkin paling sedikit salahnya di antara pilihan yang lainnya. Di sini lah guna otak, hati dan nurani yang dianugerahkan Allah SWT pada kita. Itu tugas kita. Memilih. Jangan sampai yang naik malah yang paling buruk.
Lagipula, jika menunggu ada yang sempurna, sampai ke liang lahat pun kita akan selalu golput. Saya, kamu dan dia pun tahu hal tersebut. Tak ada manusia yang sempurna.

Ada yang beranggapan “Kalau kita milih Caleg, terus pas dia naik di golput. Berarti ktia penyebab korupsi dong?”

Ini jawabannya.

BhYfpyHCcAA0xlF

Golput pilihan keliru

 

Ada yang beranggapan “Nggak usah milih. Semua sama aja” “Ambil duitnya, nggak usah nyoblos”.

Ini jawabannya… Tidak memilih yang yang menggunakan money politic saja tak cukup. Tambahkan dengan memilih yang bersih. Kasihan, pejuang tanpa pendukung.

Bil3VoCCYAEDH9W

Salah dukung

 

Atau ada yang beranggapan “Tuh kan, gue bilang juga apa. Ngapain milih pas pemilu. Semua sama aja nggak ada perubahan”

Nih buat kamu-kamu yang beranggapan demikian…

Bhx8Hh8CcAA4K9S

Protes ke siapa?

 

Beda Black dan Negative Campaign

Image

Sampanye adalah minuman anggur bergelembung yang dihasilkan di kawasan Champagne di Perancis.

Bukan. Bukan champagne yang ini yang akan kita bahas, melainkan campaign atau bahasa buminya adalah kampanye.

Marak kita lihat di lapangan. Kampanye tak hanya mengiklankan diri (partai), tapi juga ternyata ada yang menjatuhkan partai lain untuk meninggikan diri (partai) sendiri. Untuk tipe kedua ini sendiri juga terbagi dua tipe.

Tipe pertama adalah black campaign atau kampanye hitam. Menurut om Bara Hasibuan seorang ahli bahwa lack campaign merupakan model kampanye yang melempar isu, gosip dan sebangsanya, tanpa didukung fakta atau bukti. Kampanye hitam ini sendiri dipraktekkan mungkin dengan maksud merusak citra lawan politik dengan mengharap adanya migrasi suara dari hal tersebut. Contohnya ketika seorang caleg dari partai A menuduh caleg dari partai lain melakukan money politic tanpa didasari bukti yang kuat.

Seperti kisah bawang merah dan bawang putih. Ternyata black campaign ini punya saudara yang hamper serupa tapi tak sama, dia disebut Negative Campaign. Berbeda dengan saudaranya yang menyebarkan isu tanpa bukti. Kampanye negatif ini cenderung lebih bersih. Kampanye negatif lebih menonjolkan kekurangan lawan politik dengan memiliki bukti atau mungkin memang telah terbukti. Dan menurut hemat Saya pun, ini “halal” dilakukan ketika kampanye. Contoh nyata dari negatif kampanye adalah mengkampanyekan atau mengajak masyarakat agar tak mendukung atau memilih partai yang korup. Bagaimana menurutmu? Sah-sah saja kan?

Contoh lain mungkin dengan menggunakan rilis update grafik dan index partai terlibat korupsi dari @KPKwatch_RI, kita sebagai warga negara yang baik mengajak warga negara lainnya untuk tak memilih partai yang jumlah koruptornya banyak.

(merupakan hasil resume pada polri.go.id, mahkamahagung.go.id, infokorupsi.go.id, kpk.go.id, korupedia.org, kejaksaan.go.id)

Image

Image

Image

Berdasarkan data-data di atas kita sudah bisa menjalankan negatif kampanye yang cenderung lebih sehat dibanding kampanye hitam yang lebih sering berdasarkan “katanya” karena tak didukung data dan bukti.

Sekian dari Saya tentang perbedaan kampanye hitam dan kampanye negatif. Dan mungkin ada beberapa pihak yang dirugikan dengan adanya tulisan ini. Tapi Saya yakin dengan tulisan ini akan lebih banyak yang tercerahkan.

Masih banyak orang sekitar kita yang belum mengetahui tentang hal ini. Atau jangan-jangan Kamu pun baru tahun tentang ini? Tapi tak mengapa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Pesan terakhir dari Saya, jadilah pemilih cerdas yang mencerdaskan.